Daerah  

Kirab Tiga Pusaka Peninggalan Pendiri Bumi Reog Disaksikan Ribuan Warga Ponorogo

Ketiga Pusaka saat dikirab dari makam Bathoro Katong ke Alun Alun Ponorogo.
Ketiga Pusaka saat dikirab dari makam Bathoro Katong ke Alun Alun Ponorogo (Sony Prasetyo)

Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Ribuan warga Ponorogo memadati sejumlah jalan protokol di Bumi Reog demi menyaksikan pawai kirab pusaka menjelang satu suro, pada Sabtu (6/7/2024) sore. Tiga pusaka milik Kabupaten Ponorogo, yakni Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, dan Sabuk Angkin Cinde Puspita, diarak dari makam Bathoro Katong menuju Alun-Alun, berjarak lima kilometer.
Tiga pusaka peninggalan pendiri Kabupaten Ponorogo tersebut diarak untuk dijamas di depan paseban Alun-Alun Ponorogo menggunakan air dari tujuh sumur.

Selain itu, kirab pusaka tersebut merupakan simbolisasi pemindahan pusat pemerintahan yang sebelumnya berada di Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, ke kompleks Pemkab saat ini. Kirab pusaka, yang merupakan agenda tahunan, juga diikuti oleh Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko dan Wakil Bupati Lisdyarita, serta para kepala forkopimda.

banner 400x130

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, yang akrab disapa Kang Giri, menjelaskan bahwa ketiga pusaka yang diarak tersebut masing-masing memiliki makna dan tuntunan bagi seorang pemimpin dalam memimpin Kabupaten Ponorogo.

Baca juga : Polres Kota Kediri Resmi Bergabung di MPP, Layani Pengurusan SKCK

Payung Tunggul Wulung melambangkan bahwa setiap pemimpin harus mampu mengayomi, memayungi kepentingan, serta melindungi masyarakat. “Pemimpin harus bisa menjadi payung untuk masyarakatnya dan membuat masyarakat adem ayem,” ungkap Sugiri Sancoko.

Tombak Tunggul Nogo, menurut Bupati, adalah senjata bagi seorang prajurit dalam peperangan. Artinya, pemimpin harus bisa menjadi contoh bagi masyarakat serta menjaga keamanan daerahnya.
“Seperti tombak yang berada di depan, pemimpin juga harus mampu untuk memperjuangkan rakyatnya,” tegasnya.

Sedangkan Sabuk Angkin Cinde Puspita, sabuk kain yang digunakan langsung oleh Bathara Katong, memiliki simbol bahwa pemimpin harus bisa menahan segala hawa nafsu, keserakahan, dan kesombongan.

“Sabuk digunakan di badan, artinya harus bisa menahan segala hawa nafsu, kesombongan, kerakusan, serta congkak,” imbuhnya.

Baca juga : Mas Dhito dan dr Ari Dideklarasikan Sebagai Bacabup dan Bacawabup Kediri, Ini Info Deklaratornya

Setelah dijamas, pusaka-pusaka bersejarah tersebut akan disimpan di rumah dinas pringgitan. Air jamasan diperebutkan oleh masyarakat karena dipercaya mampu membawa keberkahan serta menolak bala.***

Reporter : Sony Dwi Prastyo
Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *