Daerah  

Krisis Air Bersih Melanda Kabupaten Trenggalek, Dua Desa Terdampak

Krisis Air Bersih Melanda Kabupaten Trenggalek, Dua Desa Terdampak
Warga saat mengambil air bersih di bak penampungan (angga)

Kediri, LINGKARWILIS.COM – Krisis air bersih mulai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Trenggalek, dengan dua desa yang terdampak kekeringan hingga saat ini. Kedua desa tersebut telah mengajukan permintaan suplai bantuan air bersih.

“Yang mengajukan, bersurat dua desa. Desa Ngulan Kulon di Kecamatan Pogalan dan Desa Besuki di Kecamatan Panggul,” kata Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Admono, Rabu (19/6).

banner 400x130

Di Desa Besuki, kekeringan melanda dua dusun, yaitu Dusun Bungur di RW 07 dan Dusun Sanggar di RW 03. Di Dusun Bungur, ada tiga RT yang terdampak yaitu RT 19, 20, dan 21 dengan total 101 kepala keluarga dan 165 jiwa. Sementara di Dusun Sanggar, ada dua RT yang terdampak, yaitu RT 9 dan 10, dengan 93 kepala keluarga dan 276 jiwa.

Baca juga : Ribuan KPM di Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren Kota Kediri Kembali Terima Bantuan Pangan Beras, Ini Infonya.

Petugas mendistribusikan 12 ribu liter air bersih di daerah tersebut pada Selasa (18/6). Sementara itu, droping air bersih di wilayah lain yang mengajukan bantuan masih dalam proses.

Secara umum, kondisi sumber air di wilayah ini sudah mengering sehingga warga kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. Kondisi ini diperkirakan akan semakin parah karena Trenggalek bakal memasuki puncak musim kemarau.

Menurut rilis BMKG, puncak musim kemarau di Trenggalek diperkirakan berlangsung antara Juli dan Agustus.

Selain menghadapi kekeringan, BPBD Trenggalek juga mengantisipasi potensi dampak kemarau lainnya, seperti bencana kebakaran hutan dan lahan yang menjadi ancaman serius bagi wilayah ini.

“Untuk itu kita lakukan berbagai langkah-langkah mitigasi bencana,” pungkas Triadi.

Untuk diketahui, secara umum di Jawa Timur terdapat 74 zona musim, dengan awal kemarau dimulai pada bulan Mei yang mendominasi hingga 64,9 persen. Sebanyak 27 persen wilayah memasuki kemarau pada bulan April dan sisanya 8,1 persen pada bulan Juni.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah Jawa Timur pada bulan Juli sebesar 9,5 persen dan paling banyak pada bulan Agustus sebesar 75,7 persen. Sisanya 14,9 persen diperkirakan terjadi pada bulan September.***

Reporter : Angga Prasetya
Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *