Penerimaan Triwulan II Kediri Raya Diawali Dengan Kontraksi

Penerimaan Triwulan II Kediri Raya Diawali Dengan KontraksiIlustrasi Kinerja APBN di Kediri Raya (KPPN Kediri)

Sektor penerimaan APBN hingga periode bulan April 2024 wilayah Kediri Raya diwarnai dengan kontraksi. KPPN Kediri mencatatkan pendapatan sebesar Rp10.082,21 miliar tumbuh negatif sebesar 16,39 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski sektor pendapatan mencatatkan nilai yang negatif, sektor belanja terpantau tumbuh positif 28,19 persen dari periode yang sama tahun yang lalu. Capaian ini sudah baik ditandai dengan berada di atas rata-rata nasional yang hanya 10,9 persen.

Sektor pendapatan APBN ini bersumber dari perpajakan, penerimaan bukan pajak, serta kepabeanan dan cukai. Semua sumber pendapatan ini mengalami kontraksi akibat adanya sejumlah faktor.

Perpajakan mengalami kontraksi sebesar 16,61 persen, dengan membukukan penerimaan sebesar Rp9.912,97 miliar. Sedangkan penerimaan negara bukan pajak tumbuhh negatif sebesar 0,79 persen dan membukukan penerimaan sebesar Rp169,24 miliar.

Baca Juga: Lapas Kelas IIA Kediri Serius Membangun Karakter dan Keterampilan Warga Binaan Lewat Program Asimilasi dan Edukasi 

Penerimaan kepabeanan dan cukai yang diampu oleh KPP BC TMC Kediri mencatat realisasi sebesar Rp9.256,70 miliar, setara dengan 26,74 persen dari target tahun 2024 sebesar Rp34.619,43 miliar. Membandingkan dengan tahun lalu, nilai ini mengalami kontraksi sebesar 18,65 persen.

Mengesampingkan penerimaan cukai, sebenarnya penerimaan bea masuk sudah mengalami pertumbuhan yang signifikan, yaitu 44,27 persen. Hanya saja, nilai perbandingan dengan penerimaan cukai yang sangat besar, maka secara total penerimaan kepabeanan dan cukai terlihat tumbuh negatif.

“Ada beberapa hal yang menyebabkan penerimaan mengalami kontraksi, seperti kebijakan baru PT. POS Indonesia terkait penjualan benda materai. Selain itu peredaran rokok ilegal juga menekan pendapatan dari sisi cukai,” ujar Yudi Santoso, Kepala Seksi Bank KPPN Kediri, Kamis (30/5).

Produksi Sigaret Kretek Mesin (SKM) di wilayah Kediri juga mengalami penurunan yang berdampak pada menurunnya penerimaan. Adanya kenaikan produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang signifikan juga tidak serta merta bisa mengatasi penurunan penerimaan. Hal ini karena tarif yang dikenakan pada SKM dan SKT perbedaannya terlampau jauh.

Baca Juga: Jamaah Haji Kabupaten Kediri Dijadwalkan Berangkat Jumat Pagi, Dinkes Ingatkan Cuaca Panas Ekstrem

Beralih pada sektor belanja APBN Kediri Raya, hingga awal Triwulan II tahun ini wilayah Kediri Raya menunjukkan perkembangan yang baik. Realisasi yang sudah dibukukan sampai dengan 30 April 2024 sebesar 35,59 persen, jumlah ini masih di atas rerata nasional sebesar 25,5 persen.

Realisasi sebesar Rp3.212,42 miliar yang telah dibukukan di Kediri Raya ini terdiri dari belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp838,69 miliar dan belanja Transfer ke Daerah sebesar Rp2.373,72 miliar.

Editor: Ahmad Bayu Giandika

Leave a Reply