Prosesi ritual Suro tahun ini berjalan khidmat karena pengunjung disterilkan dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam area Petilasan Sri Aji Jayabaya selama kegiatan berlangsung.
“Dari tahun lalu, lebih banyak pengunjung tahun ini. Jadi lebih ramai,” ujar Kepala Desa Menang, Linda Endrawati.
Linda menyebut, ada sekitar 200 peserta yang mengikuti kirab, termasuk warga desa setempat. Dengan kegiatan rutin tahunan ini, ia melihat bahwa selain melestarikan adat dan budaya, kegiatan ini juga dapat mengangkat perekonomian masyarakat setempat.
“Disini banyak warga kami yang berjualan makanan, minuman, dan menyediakan tempat parkir,” ucapnya.
Sementara itu, Pengurus Yayasan Hondodento, Chatarina Etty menyampaikan bahwa ziarah satu Suro ini dimulai dengan berjalan kaki dari pendopo atau kantor desa menuju Pamoksan Sri Aji Jayabaya dan dilanjutkan ke Sendang Tirta Kamandanu.
Ritual dalam kirab tersebut berupa doa untuk memohon bimbingan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya agar pikiran, hati, dan perbuatan menjadi bersih.
“Setelah memohon bimbingan hidup, kita menghormati beliau karena air di sini (Sendang Tirta Kamandanu) dulunya disentuh oleh Sri Aji Jayabaya,” ucapnya.
Chatarina menuturkan bahwa jumlah pengunjung tahun ini lebih banyak. Ia yang baru datang dari Jogja pada pukul 02.30 WIB di pendopo Desa Menang melihat mobil dari luar daerah seperti Kalimantan dan Jakarta sudah memenuhi tempat tersebut, dan banyak orang yang tidur di sana, apalagi di pamoksan juga sudah penuh.
“Harapan saya ke depannya, masyarakat agar melakukan upacara rutin tanpa putus, supaya menjadi contoh dan keteladanan bahwa kehormatan Sri Aji Jayabaya menjadi teladan untuk meneladani Sang Prabu sebagai seorang pemimpin sejati yang mencintai rakyatnya,” ungkapnya.***
Editor : Hadiyin