LINGKARWILIS.COM – Media sosial X ramai membicarakan anak Vincent Rompies yang diduga terlibat dalam bullying di sekolahnya, Binus School.
Hal tersebut juga telah dibenarkan oleh pihak Binus School bahwa anak Vincent Rompies sebagai salah satu pelaku bullying atau perundungan di sekolahnya.
Video bullying yang dilakukan anak Vincent Rompies bersama teman lainnya tersebar di media sosial, dalam potongan video tersebut terlihat salah satu anak dirundung dengan ditonton banyak orang disekitarnya.
Diketahui aksi bullying yang terjadi di Binus School itu dilakukan oleh 8 orang, diantaranya memiliki tugas masing-masing dalam merundung. Dari kejadian ini, beberapa anak dikeluarkan termasuk anak Vincent Rompies.
Dilansir dari akun X @mboklah, korban dari geng tersebut mencapai 40 lebih. Tapi belum begitu jelas korbannya berapa saja, karena kepolisian masih dalam penyelidikan.
“Kita masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut biar nanti perkembangan ke depan akan kami sampaikan lagi.” Kata salah satu pihak kepolisian.
Menurut kesaksian orang tua korban, anaknya mendapatkan kekerasan dari kakak senior, yang merupakan sekumpulan geng yang menamakan dirinya GT.
Dia menjelaskan bahwa anaknya dihajar, dipiting, diikat hingga diludahi secara bergantian oleh GT. Menurut geng tersebut kekerasan itu masih pemanasan dan akan berlanjut di hari berikutnya.
Belum sampai hari berikutnya, sang ibu langsung melaporkan kasus kekerasan yang dialami anaknya itu, setelah melihat video anaknya dibully.
GT juga mengancam korban, jika melaporkan mereka akan menganiaya adiknya yang duduk di kelas 6 SD.
GT merupakan geng sekolah yang sudah berlangsung selama 9 generasi di Binus School dan di mulai pada masa menengah ke atas. Siapa pun yang ingin masuk ke geng mereka harus mematuhi beberapa hal supaya bisa diterima.
Anggota yang mau masuk dalam geng ini akan dikumpulkan di Warung Ibu Gaul, toko kecil yang terletak di belakang sekolah.
Mereka akan diminta untuk melakukan tindakan menyimpang terhadap anggota yang mau bergabung, Contohnya meneriakan nama, membelikan makanan hingga mereka harus dihukum secara fisik.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya





