Trenggalek, LINGKARWILIS.COM – Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Trenggalek tengah mengantisipasi fluktuasi harga beras dengan mengampanyekan konsumsi makanan pendamping beras.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kemungkinan lonjakan harga beras yang dapat mempengaruhi daya beli masyarakat, terutama dalam konteks musim kemarau panjang yang berdampak pada produksi beras.
Ketua TP-PKK Trenggalek, Novita Hardini, mengungkapkan keprihatinannya terhadap potensi krisis beras yang mungkin terjadi pada tahun 2025, mengingat harga beras yang saat ini sudah sangat tinggi.
Untuk menghadapi situasi ini, TP-PKK gencar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya makanan pendamping beras sebagai alternatif yang dapat dipertimbangkan jika harga beras melonjak.
Makanan pendamping beras yang diusulkan mencakup singkong, talas, ubi, pisang, porang, jagung, dan sukun. Keberadaan makanan-makanan ini di lingkungan sekitar dianggap sebagai kekayaan alam yang dapat mendukung ketahanan pangan lokal.
Novita Hardini juga menekankan perlunya mengurangi ketergantungan pada beras dengan mengonsumsi variasi makanan pendamping tersebut.
Inisiatif ini tidak hanya dilakukan oleh TP-PKK, tetapi juga menjadi perhatian serius bagi perempuan anggota DPR-RI Dapil VII Jatim, yang intens mengampanyekan makanan pendamping beras sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan masyarakat di Trenggalek.
Dengan demikian, diharapkan bahwa masyarakat dapat lebih siap menghadapi kemungkinan krisis pangan di masa mendatang.***
Reporter : Angga Prasetya
Editor : Hadiyin
Editor : Hadiyin
