LINGKARWILIS.COM – Media sosial tidak hanya ramai tagar Indonesia Gelap tetapi juga tagar Kabur Aja Dulu yang kini banyak dituliskan warganet dalam menanggapi berbagai hal yang terjadi di Indonesia.
Banyaknya tren #KaburAjaDulu di media sosial juga memicu berbagai reaksi dari kalangan menteri hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Beberapa dari mereka, ada yang menanggapi secara positif dan negatif dari tagar yang dibuat masyarakat.
Fenomena tagar Kabur Aja Dulu sendiri merupakan bentuk ketidakpuasan masyarakat terhadap situasi ekonomi, sosial, dan keadilan di Indonesia.
Banyak yang menilai bahwa kebijakan pemerintah belakangan ini kurang berpihak pada rakyat, sehingga memicu keinginan untuk mencari peluang di luar negeri.
Aksi Demo Indonesia Gelap Jadi Sorotan Media Asing Singapura
Awal Mula Kabur Aja Dulu
Tagar ini pertama kali populer di platform X, di mana warganet menggunakannya untuk mengungkapkan keinginan mereka melanjutkan studi, bekerja, atau bahkan sekadar menetap di luar negeri.
Unggahan-unggahan bertagar #KaburAjaDulu kerap disertai ajakan bagi anak muda untuk mengeksplorasi peluang di luar negeri.
Tetapi seiring berkembangnya tren ini, banyak yang mengaitkannya dengan tingginya biaya pendidikan, minimnya lapangan kerja, serta rendahnya upah pekerja di Indonesia.
Tak hanya sekadar keluhan, warganet juga aktif berbagi informasi tentang beasiswa, peluang kerja, kursus bahasa, hingga pengalaman hidup di luar negeri.
Dari beberapa unggahan menjadikan tagar ini sebagai simbol aspirasi untuk mencari masa depan yang lebih baik di luar negeri.
Aksi Demo Indonesia Gelap Jadi Sorotan Media Asing Singapura
Penyebab makin ramai #KaburAjaDulu
Tagar #KaburAjaDulu muncul sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap berbagai kondisi di Indonesia, terutama dalam aspek ekonomi, sosial, dan keadilan. Ada beberapa faktor utama yang diduga menjadi pemicu tren ini, antara lain:
1. Tingginya Biaya Pendidikan
Banyak warganet mengeluhkan mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, sehingga memilih untuk mencari kesempatan belajar di luar negeri yang dianggap lebih berkualitas dan terjangkau.
2. Minimnya Lapangan Pekerjaan
Kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji yang memadai menjadi alasan utama banyak orang ingin bekerja di luar negeri.
3. Rendahnya Upah di Dalam Negeri
Dibandingkan dengan negara lain, upah di Indonesia dinilai rendah, sehingga masyarakat tergiur untuk mencari pekerjaan di luar negeri yang menawarkan gaji lebih besar.
4. Ketidakpuasan terhadap Kebijakan Pemerintah
Sejumlah kebijakan pemerintah dianggap tidak berpihak pada rakyat, terutama dalam bidang ekonomi dan ketenagakerjaan, yang membuat sebagian masyarakat ingin mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.
5. Ketimpangan Sosial dan Keadilan
Beberapa orang merasa bahwa sistem hukum dan sosial di Indonesia masih belum memberikan keadilan yang merata, sehingga mereka mencari lingkungan yang lebih adil dan nyaman.
Tren #KaburAjaDulu akhirnya berkembang menjadi ajakan untuk merantau ke luar negeri, baik untuk bekerja, melanjutkan pendidikan, atau sekadar mencari kehidupan yang lebih baik.
Respon pemerintah
Kalangan pemerintahan juga ikut menanggapi #KaburAjaDulu yang semakin kian ramai diperbincangkan masyarakat
1. Raffi Ahmad
Menurut Raffi Ahmad menyoroti pentingnya mengarahkan tren #KaburAjaDulu ke arah yang lebih positif. Menurutnya, tren tersebut sebenarnya tidak masalah, tetapi masyarakat perlu mendapatkan sosialisasi dan edukasi yang memadai.
Ia pun mengajak para pemengaruh dan berbagai pihak untuk bersama-sama memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya bekerja di luar negeri melalui jalur yang prosedural.
Raffi menekankan bahwa bekerja di luar negeri harus dilakukan melalui jalur resmi yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga keamanan dan hak pekerja tetap terlindungi.
2 Abdul Kadir Karding, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Karding menilai bahwa bekerja di luar negeri tidak hanya memberi peluang bagi individu untuk merantau, tetapi juga berkontribusi pada pemasukan negara melalui remitansi dari luar negeri.
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah tidak memandang negatif keinginan WNI untuk bekerja di luar negeri.
Menurutnya, tren #KaburAjaDulu ustru seharusnya menjadi dorongan bagi pemerintah untuk meningkatkan kinerja dan membangun negara dengan lebih baik.
Ia menekankan bahwa aspirasi masyarakat ini perlu dijadikan motivasi untuk menciptakan kebijakan yang lebih mendukung kesejahteraan pekerja.
Meski demikian, Karding mengingatkan agar WNI yang berencana bekerja di luar negeri tidak hanya fokus pada keterampilan, tetapi juga memperhatikan aspek penting lainnya.
3 Menteri ATR Nusron Wahid
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Nusron Wahid, menilai bahwa tren #KaburAjaDulu mencerminkan kurangnya rasa patriotisme terhadap Indonesia. Ia menekankan bahwa jika ada permasalahan dalam negeri, seharusnya diselesaikan bersama, bukan dengan meninggalkan negara.
Menurut Nusron, pergi ke luar negeri bukanlah solusi untuk mengatasi berbagai persoalan. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah selalu terbuka terhadap kritik dan saran dari masyarakat serta siap berdialog untuk mencari solusi atas isu-isu yang dihadapi.
4 Immanuel Ebenezer, Wakil Menteri Ketenagakerjaan
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer Gerungan, menanggapi santai fenomena #KaburAjaDulu yang tengah viral di media sosial. Menurutnya, keberadaan tagar tersebut bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Ia bahkan menyatakan bahwa WNI yang ingin meninggalkan Indonesia dipersilakan. Namun, ia menegaskan bahwa jika seseorang sudah memutuskan untuk pergi dari negara ini, sebaiknya tidak kembali lagi.
Respon influencer
Tidak hanya anggota pemerintahan saja memberikan tanggapan soal tren #KaburAjaDulu beberapa influencer juga turut ikuti menanggapi hal ini.
1 Gita Savitri
Gita Savitri, yang telah tinggal di Jerman selama lebih dari 15 tahun, berbagi pengalaman tentang tantangan hidup di luar negeri. Ia menekankan bahwa kehidupan di luar negeri tidak selalu lebih baik dari di Indonesia, karena imigran harus berjuang sendiri tanpa jaminan keamanan sosial.
Tren “Kabur Aja Dulu” didorong oleh faktor seperti rendahnya upah pekerja muda, tingginya biaya pendidikan, dan ketimpangan sosial. Gita juga menyoroti bahwa meskipun pendidikan di luar negeri menawarkan peluang, biayanya sangat tinggi dan persaingannya ketat.
βBanyak yang berpikir bahwa dengan belajar di luar negeri, mereka akan mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Namun, mereka harus siap dengan biaya yang sangat tinggi dan persaingan yang ketat,β tambahnya.
2 Cikita Fawzi
Chiki Fawzi turut menanggapi maraknya tagar *Kabur Aja Dulu* di media sosial. Ia mengakui bahwa bekerja di luar negeri terasa nyaman karena adanya fasilitas yang memadai dari pemerintah setempat, meskipun gajinya tidak seberapa.
“Sebanarnya kehidupan di luar tuh nyaman. Saya merasa gajinya mungkin gak seberapa tapi kehidupannya dan fasilitas yang diberikan negara sangat nyaman. Kerjanya juga jelas,” terang Chiki.
Chiki juga menilai tren ini sebagai bentuk kontrol sosial masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Menurutnya, banyak yang menyuarakan tagar tersebut karena merasa kebijakan yang ada tidak mendukung kemudahan dalam mencari pekerjaan di Indonesia.
Ia menambahkan bahwa di luar negeri, pekerja dengan kapasitas menengah lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang layak.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya


