LINGKARWILIS.COM – Indonesia dikenal punya banyak gunung ekstrem yang menawarkan keindahan alam luar biasa sekaligus tantangan mendaki yang ekstrem.
Beberapa gunung di Tanah Air memiliki jalur pendakian yang begitu sulit, curam, serta dipenuhi medan berbahaya, menjadikannya hanya bisa ditaklukkan oleh pendaki berpengalaman.
Selain itu, faktor cuaca, keberadaan hewan buas, hingga kondisi jalur yang tak terduga semakin menambah risiko bagi para petualang. Meskipun demikian, bagi sebagian pendaki, tantangan inilah yang justru membuat beberapa gunung ekstrem di Indonesia menjadi destinasi impian.
Berikut adalah daftar gunung ekstrem dan berbahaya di Indonesia yang telah menelan banyak korban serta menguji batas kemampuan para pendaki.
7 Gunung Ekstrem di Indonesia
1. Puncak Cartenz (Papua)
Puncak Cartenz atau Puncak Jaya adalah puncak tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 4.884 mdpl. Gunung ini merupakan bagian dari Pegunungan Sudirman di Papua dan dikenal sebagai salah satu Seven Summits dunia.
Pendakian ke puncak ini sangat sulit karena harus melalui jalur tebing curam dan menyeberangi jurang dengan tali pengaman. Selain itu, cuaca ekstrem seperti suhu dingin, oksigen tipis, dan badai yang datang tiba-tiba menjadi tantangan tambahan bagi para pendaki. Hanya pendaki berpengalaman dan terlatih yang dapat mencapai puncak ini.
Beberapa hari lalu Puncak Cartenz dikabarkan memakan korban akibat cuaca buruk yang sedang terjadi. Rombongan pendaki yang juga diikuti Fiersa Besari itu mengalami rintangan yang cukup besar saat turun gunung.
Elsa Laksono dan Lilie Wijayanti Poegiono, dilaporkan meninggal dunia pada 1 Maret 2025 saat melakukan ekspedisi di pegunungan. Keduanya, yang berasal dari Jakarta dan Bandung, tergabung dalam tim ekspedisi berjumlah 15 orang, terdiri dari 10 pendaki dan 5 pemandu gunung berpengalaman.
Perjalanan mereka dimulai dengan menggunakan helikopter hingga ke Lembah Kuning, sebelum melanjutkan pendakian dengan berjalan kaki.
Namun, kondisi cuaca ekstrem di ketinggian menyebabkan Elsa dan Lilie, yang berusia 60 tahun, mengalami hipotermia sehingga tak mampu melanjutkan perjalanan.
Setelah kejadian itu, tim segera melakukan evakuasi. Jenazah kedua pendaki diterbangkan menggunakan helikopter dari Lembah Kuning ke Mimika, sebelum akhirnya dipulangkan ke Jakarta untuk diserahkan kepada pihak keluarga.
2. Gunung Piramid (Jawa Timur)
Gunung Piramid di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, dikenal dengan sebutan “The Most Dangerous Climbing Route”. Jalur pendakian yang disebut sebagai “Punggung Naga” memiliki kemiringan yang sangat curam dengan sisi kanan dan kiri berupa tebing yang menjulang.
Tanpa adanya tali pengaman, pendakian di gunung ini memiliki risiko tinggi. Beberapa pendaki telah menjadi korban akibat terjatuh ke jurang.
Salah satu kisah yang pernah menghebohkan media adalah hilangnya Thoriq dalam kabut Gunung Piramid. Thoriq Rizki Maulidan, dilaporkan hilang saat mendaki Gunung Piramid di Bondowoso, Jawa Timur. Remaja yang baru saja lulus SMP itu terakhir terlihat pada Minggu (23/6/2019), sebelum dinyatakan hilang di jalur pendakian.
Upaya pencarian dilakukan secara intensif oleh tim SAR, relawan, dan berbagai pihak yang terlibat. Setelah 12 hari pencarian, jasad Thoriq akhirnya ditemukan pada Jumat (5/7/2019) di jalur yang dikenal sebagai “Punggung Naga”βsalah satu medan paling terjal dan sulit dijangkau di Gunung Piramid.
Penemuan ini sekaligus mengakhiri harapan akan keselamatannya, namun menjadi peringatan bagi para pendaki akan risiko besar yang dihadapi saat menaklukkan jalur ekstrem di gunung tersebut.
3. Gunung Leuser (Sumatera)
Gunung Leuser yang berada di dalam Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh, merupakan salah satu situs warisan dunia UNESCO. Dengan tiga puncak utama yaitu Puncak Tanpa Nama, Puncak Loser, dan Puncak Leuser, gunung ini memiliki jalur yang sangat panjang dan ekstrem. Diperlukan waktu sekitar 10 hingga 14 hari untuk mencapai puncaknya.
Tantangan utama dalam pendakian ini adalah medan yang naik turun, sungai berarus deras, serta ancaman dari hewan buas seperti harimau Sumatera.
Gunung Leuser merupakan habitat bagi satwa langka seperti harimau Sumatera, gajah, dan orangutan. Namun, di balik keindahannya, gunung ini juga dikenal dengan berbagai kisah mistis.
Beberapa pendaki dilaporkan hilang secara misterius, sementara saksi mata mengaku mendengar suara aneh atau melihat bayangan di tengah hutan.
Penduduk setempat meyakini bahwa Gunung Leuser memiliki penjaga gaib yang akan memberikan peringatan kepada siapa pun yang bersikap tidak hormat atau merusak alam.
Menurut kepercayaan turun-temurun, pendaki yang melanggar norma dapat mengalami gangguan, seperti tersesat atau melihat penampakan menyeramkan.
4. Gunung Raung (Jawa Timur)
Gunung Raung merupakan salah satu gunung paling ekstrem di Pulau Jawa. Gunung berapi ini terletak di perbatasan Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember.
Dengan empat puncak utama yaitu Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan Puncak Sejati, gunung ini terkenal dengan jalur pendakian yang curam dan ekstrem.
Salah satu jalurnya yang disebut “Jembatan Shiratal Mustaqim” memiliki kemiringan hampir 90 derajat dengan jurang dalam di kedua sisinya, sehingga kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal.
5. Gunung Latimojong (Sulawesi)
Gunung Latimojong adalah gunung tertinggi di Pulau Sulawesi dengan ketinggian sekitar 3.478 mdpl. Puncaknya yang dikenal sebagai Puncak Rante Mario memiliki jalur pendakian yang terkenal sulit.
Trek menanjak yang ekstrem, jalur bebatuan cadas yang tajam, serta medan yang berliku menjadi tantangan utama bagi para pendaki. Dibutuhkan stamina yang kuat dan keahlian khusus untuk bisa mencapai puncak gunung ini.
Gunung Latimojong pernah menjadi saksi tragedi jatuhnya pesawat Aviastar di kawasan pegunungannya. Peristiwa tersebut meninggalkan puing-puing pesawat yang masih dapat ditemukan di tengah hutan Dusun Gamaru, Kabupaten Luwu, sehingga menambah kesan misterius gunung ini.
Selain keindahan alamnya, gunung ini juga dikenal dengan cerita-cerita mistis, salah satunya tentang hantu Poppo. Menurut kepercayaan masyarakat setempat,
Poppo adalah makhluk yang dapat terbang di malam hari dan sering dikaitkan dengan suara “Pok… Pok!” yang terdengar saat malam tiba. Warga percaya bahwa makhluk ini mencari makan di malam hari, sementara pada siang hari ia menyamar sebagai manusia biasa.
6. Gunung Binaya (Maluku)
Gunung Binaya di Pulau Seram, Maluku, memiliki ketinggian sekitar 3.027 mdpl. Gunung ini termasuk dalam kategori pegunungan karst seperti Jayawijaya dan bukan merupakan gunung berapi. Jalur pendakiannya sangat panjang dan memerlukan waktu sekitar 5 hingga 7 hari untuk mencapai puncak.
Pendaki harus melewati sungai dengan arus deras, hutan hujan tropis, serta tanjakan terjal dengan kemiringan hampir 70 derajat. Namun, keindahan alam dari puncaknya membuat perjuangan berat ini sepadan.
Gunung Binaiya di Maluku tak hanya dikenal karena jalur pendakiannya yang menantang, tetapi juga kisah misterius yang menyelimutinya.
Salah satu cerita paling terkenal adalah hilangnya seorang pendaki yang nekat menjelajahi area terlarang. Ia dikabarkan terus berjalan hingga larut malam dan tak pernah ditemukan kembali. Hingga kini, keberadaannya masih menjadi misteri.
Selain itu, puncak Gunung Binaiya dipercaya menyimpan Batu Mustika yang diyakini memiliki kekuatan magis. Konon, batu ini bisa membawa keberuntungan dan keselamatan bagi siapa pun yang memilikinya, namun hanya mereka yang memiliki niat tulus serta mampu melewati tantangan gunung yang bisa mendapatkannya.
Tak sedikit pendaki yang mengaku melihat sosok makhluk gaib di kawasan gunung ini. Menurut kepercayaan setempat, makhluk-makhluk halus tersebut bertugas menjaga gunung dan melindungi para pendaki dari bahaya yang mengintai.
7. Gunung Kerinci (Sumatera)
Gunung Kerinci yang terletak di Provinsi Jambi merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Asia Tenggara dengan ketinggian 3.805 mdpl. Selain jalur pendakiannya yang berat dan berbahaya, Gunung Kerinci juga merupakan habitat asli harimau Sumatera.
Jalur menuju puncak didominasi oleh bebatuan dengan jurang dalam di sisinya. Kesalahan langkah sedikit saja bisa berakibat fatal. Selain itu, sudah banyak pendaki yang hilang di gunung ini, bahkan beberapa di antaranya tidak pernah ditemukan kembali.
Meskipun memiliki jalur yang ekstrem dan berbahaya, gunung ekstrem ini tetap menjadi daya tarik bagi para pendaki yang ingin menantang batas kemampuan mereka.
Namun, bagi yang ingin mencoba, persiapan fisik, mental, serta perlengkapan yang memadai sangat diperlukan agar pendakian dapat dilakukan dengan aman.
