KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Suasana kebersamaan dan gotong royong mewarnai pelaksanaan tradisi Sedekah Bumi Sumber Banteng di Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, pada Sabtu–Minggu (8–9/11/2025). Mengusung semangat “Masyarakat Tempurejo Bersatu”, kegiatan ini menjadi simbol keharmonisan warga dalam menjaga hubungan antara manusia, alam, dan budaya.
Lurah Tempurejo, Sri Handayani, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta upaya menjaga warisan budaya leluhur.
“Sedekah bumi ini menumbuhkan semangat gotong royong dan membawa keberkahan bagi seluruh warga. Selain melestarikan tradisi, kegiatan ini juga memupuk energi positif agar masyarakat Tempurejo selalu diberi kesehatan, keamanan, dan kelancaran rezeki,” ujarnya.
Baca juga : Pentas Wayang Anak Ramaikan Peringatan Hari Wayang Sedunia ke-10 di Rumah Budaya Kediri
Rangkaian kegiatan dimulai dengan penampilan drum band Santa Maria, dilanjutkan arak-arakan gunungan hasil bumi dan atraksi kesenian reog. Kirab budaya menempuh jarak sekitar dua kilometer, dari Lapangan Tempurejo hingga kawasan Wisata Sumber Banteng yang menjadi pusat acara.
Tak hanya bernilai budaya, kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi bagi warga. Sepanjang jalur kirab, tampak para pedagang dan pelaku UMKM memanfaatkan momen tersebut dengan menjual aneka jajanan dan minuman kepada para pengunjung.
Acara juga dihadiri oleh perwakilan Abdi Dalem Keraton Surakarta dan ditutup dengan ritual sakral Putus Saji, tradisi tahunan yang sarat makna spiritual bagi masyarakat Tempurejo.
Baca juga : Ribuan Warga Ngadirejo Meriahkan “Mlaku Bareng Mas Afif” Anggota DPRD Kota Kediri
Ketua Pokdarwis Wisata Sumber Banteng, Sudarsono, mengapresiasi kekompakan seluruh elemen masyarakat yang terlibat.
“Sedekah Bumi ini menjadi bukti persatuan warga Tempurejo. Kami bersama-sama mensyukuri nikmat rezeki sekaligus menjaga kelestarian alam di sekitar Sumber Banteng,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat Tempurejo menunjukkan bahwa kebersamaan dan gotong royong bukan hanya memperkuat jalinan sosial, tetapi juga menjadi kekuatan dalam melestarikan budaya serta menggerakkan ekonomi lokal.***
Reporter: Agus Sulistyo Budi
Editor: Hadiyin






