Kediri, LINGKARWILIS.COM – Menjadi terapis bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) bukanlah pekerjaan sederhana. Seorang terapis harus mampu memahami karakter setiap anak sebelum melakukan penanganan. Metode yang diterapkan pun berbeda dengan pasien dewasa, karena orang dewasa umumnya lebih mudah diarahkan sehingga proses terapi dapat berjalan lebih lancar.
Terapi bagi ABK dapat dimulai sejak dini, termasuk bagi anak yang belum mampu berjalan di usia satu tahun. Kondisi tersebut dapat mengindikasikan keterlambatan tumbuh kembang yang dipicu faktor genetik maupun gangguan persyarafan. Karena itu, intervensi terapi diperlukan sedini mungkin agar perkembangan anak dapat terkejar sesuai usia.
Di lapangan, tidak jarang ABK menunjukkan emosi atau hanya bersedia menjalani terapi jika tidak didampingi orang tuanya di dalam ruangan. Terapis harus menyesuaikan ritme terapi berdasarkan respon tubuh anak, dengan dukungan peralatan yang diperlukan untuk mempercepat proses pemulihan.
Baca juga : Jamu Semen Padang, Persik Kediri Bidik Tiga Poin di Stadion Brawijaya
Pengalaman tersebut dirasakan oleh terapis muda, Nuraini Nuriyah, yang kini bertugas di rumah terapi Aku Pulih di bawah naungan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kediri. Nuraini merupakan lulusan fisioterapi yang telah menempuh pendidikan mulai dari jenjang diploma hingga sarjana di beberapa perguruan tinggi kesehatan.
“Pada 2017 saya mulai mengambil D3 Fisioterapi di Kediri dan lulus pada 2020. Setelah itu saya melanjutkan pendidikan S1 Fisioterapi di UMS Solo hingga 2022, kemudian memperdalam kompetensi fisioterapi di UMM pada 2022–2023,” jelasnya.
Perjalanan pendidikan panjang tersebut ia tempuh demi memenuhi standar keahlian untuk praktik mandiri sesuai regulasi organisasi profesi dan kebijakan Kementerian Kesehatan. Nuraini bergabung dengan rumah terapi Aku Pulih sejak Oktober 2025 dan sejauh ini telah menangani 18 pasien.
Baca juga : Dispertabun Kediri Petakan Lahan Pertanian Rawan Bencana saat Musim Hujan
“Jadwal praktik saya setiap Selasa, Rabu, dan Kamis mulai pukul 07.30 sampai 15.30. Dalam sehari biasanya saya menangani pasien ABK. Durasi terapi berkisar antara 30 hingga 45 menit—30 menit untuk anak dan 45 menit untuk pasien dewasa. Harapan saya, setiap anak yang saya tangani dapat menunjukkan progres pemulihan yang signifikan,” ujarnya. ***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





