Batu, LINGKARWILIS.COM – Di tengah perkembangan industri fesyen yang terus berubah, Batik Olive Kota Batu tetap mempertahankan eksistensinya dengan menggabungkan kekayaan tradisi dan sentuhan inovasi.
Usaha batik yang dirintis H. Iwan Airawan, SE ini tidak sekadar menjadi bagian dari industri kerajinan lokal. Batik Olive juga menjadi wujud kecintaan terhadap seni membatik sekaligus upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal lintas generasi.
Perjalanan Batik Olive dimulai pada 1995. Berbekal ketertarikan dan kecintaan terhadap seni membatik, Iwan Ahmad Airawan memulai usahanya dari skala kecil dan dikerjakan secara rumahan.
Ketekunan dalam mengembangkan usaha membuat Batik Olive terus tumbuh. Hingga pada 2000, usaha tersebut memperoleh legalitas resmi dan mulai semakin dikenal masyarakat.
Salah satu kekuatan Batik Olive terletak pada karakter produknya yang berbeda. Batik lawasan dipadukan dengan sentuhan bordir pada batik tulis sehingga menghasilkan tampilan yang khas.
Baca juga : Pemuda 18 Tahun Meninggal Setelah Tabrak Pohon di Jalan Ir Soekarno Batu
“Keunggulan utama dari Batik Olive ini terletak pada karakteristik batik lawasan yang dipadukan dengan inovasi baru berupa bordir pada batik tulis,” kata Iwan, Selasa (6/10/2026).
Menurut Iwan, perpaduan tersebut menjadi salah satu identitas Batik Olive sekaligus memberikan karakter tersendiri pada produk batik asal Kota Batu. Inovasi itu pula yang membuat produknya tetap mampu bertahan dan diterima konsumen dari berbagai daerah di Indonesia.
Dedikasi Iwan dalam melestarikan batik juga mendapat apresiasi di tingkat nasional. Pada 2009, ia dianugerahi penghargaan Upakarti oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.
“Kami pernah mendapatkan penghargaan Upakarti sebagai bentuk apresiasi sebagai pelestari budaya dari Presiden SBY waktu itu,” tuturnya.
Tak hanya mengutamakan keindahan dan kualitas produk, Batik Olive juga berupaya menerapkan proses produksi yang lebih ramah lingkungan.
Sisa lilin atau malam batik tidak langsung dibuang. Bahan tersebut dikumpulkan dan diproses kembali agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan membatik.
Baca juga : Bupati Kediri Mas Dhito Sebut Angka Penurunan Stunting Harus Real, Bukan untuk Membuat Senang Bupati
Begitu pula dengan potongan kain atau perca batik. Di tangan para pengrajin, sisa bahan tersebut diolah menjadi berbagai produk kerajinan bernilai ekonomi, seperti kalung, tas, hingga dompet.
“Perca batik ini masih bisa dibuat sebagai handmade seperti kalung, tas, hingga dompet,” imbuhnya.
Keberadaan Batik Olive juga menjadi ruang belajar bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh proses pembuatan batik. Pengunjungnya tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga pelajar, mahasiswa, korporasi hingga wisatawan mancanegara yang datang untuk belajar membatik.
Galeri sekaligus rumah produksi Batik Olive berada di Jalan Terusan Agus Salim, Gang Pesantren 2 Nomor 5i, Kelurahan Temas, Kota Batu. Informasi mengenai produk dan kegiatan Batik Olive juga dapat diakses melalui akun Instagram @batikolive.kotabatu.
Dengan perjalanan yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade, Batik Olive menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak harus berhenti pada mempertahankan cara lama. Tradisi dapat terus berkembang melalui inovasi, kreativitas, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
“Semoga dengan keberadaan Batik Olive menjadi inspirasi bagaimana tradisi, inovasi modern, dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan dalam memajukan kriya nusantara. Selamat Hari Batik,” pungkasnya.***
Reporter: Arief Juli Prabowo
Editor : Hadiyin
Response (1)