KEDIRI, LINGKARWILIS.COM – Lahan seluas 3.850 meter persegi di belakang Mapolsek Wates, wilayah hukum Polres Kediri, mulai ditanami uwi ungu pada Rabu (4/3/2026) sore. Penanaman ini menjadi bagian dari dukungan terhadap program Asta Cita Presiden RI di sektor ketahanan pangan, bekerja sama dengan PCTA Indonesia.
Kegiatan tersebut dipimpin Karo SDM Polda Jawa Timur, Kombes Pol. Sih Harno, serta dihadiri Kapolres Kediri AKBP Bramastyo Priaji bersama jajaran dan sejumlah mitra, di antaranya perwakilan Pemkab Kediri, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Forkopimcam Wates, Pondok Jati Diri Bangsa, hingga kelompok tani setempat.
Sebanyak 3.000 bibit uwi ungu disiapkan dalam tahap awal. Bibit tersebut berasal dari PCTA Bekasi, Pondok Jati Diri Bangsa, serta petani Kabupaten Magetan. Proses persiapan telah dilakukan sejak akhir Januari, mulai dari survei lahan, koordinasi lintas instansi, pemagaran, hingga pengolahan tanah dan penyiapan bibit.
Baca juga : Harga Snack Lebaran di Jalan Patimura Kediri Naik, Pedagang Keluhkan Ketersediaan Modal
Kombes Pol. Sih Harno menegaskan, ketahanan pangan merupakan pilar strategis dalam menjaga stabilitas nasional karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat serta ketahanan sosial dan ekonomi.
“Tanam raya uwi ungu ini menjadi langkah konkret diversifikasi pangan lokal. Secara regional, Polda Jatim juga mengawal penyerapan jagung hingga 30.000 ton serta menggalakkan penanaman uwi ungu di berbagai wilayah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPD PCTA Jawa Timur, H. Puryono, menyampaikan bahwa uwi ungu masih belum banyak dikenal masyarakat, meski memiliki potensi besar sebagai pangan alternatif.
“Masyarakat lebih mengenal ubi ungu, padahal uwi ungu memiliki indeks glikemik rendah dan kandungan antioksidan tinggi yang baik untuk kesehatan. Perawatannya relatif mudah sehingga potensial dikembangkan,” jelasnya.
Kapolres Kediri menambahkan, penanaman ini menjadi langkah awal pengembangan uwi ungu sebagai komoditas alternatif di wilayahnya.
“Uwi ungu kami dorong untuk dikembangkan karena memiliki potensi besar dan masa tanam yang relatif panjang,” tuturnya.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada tahap penanaman, melainkan berlanjut hingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta menjadi contoh penguatan pangan alternatif di daerah lain.***
Reporter: Rizky Rusdiyanto
Editor : Hadiyin





