LINGKARWILIS.COM — Harapan akan terciptanya perdamaian di Gaza melalui kesepakatan gencatan senjata tampaknya masih jauh dari kenyataan. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan sejak diberlakukan, pasukan Israel dilaporkan telah melakukan lebih dari 40 pelanggaran, yang berujung pada korban jiwa serta terhambatnya penyaluran bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina.
Dilansir dari laman Minanews, encatan senjata yang mulai berlaku 10 Oktober 2025 semula disambut optimistis, ditandai dengan pertukaran tahanan dan pembebasan sejumlah warga Palestina. Namun, situasi di lapangan justru memperlihatkan kondisi yang masih penuh ketegangan dan kekerasan.
Menurut laporan resmi Gaza Media Office, sejak tanggal tersebut telah terjadi 47 pelanggaran oleh militer Israel, mencakup penembakan terhadap warga sipil, penyerangan ke area permukiman, hingga penahanan sewenang-wenang. Akibatnya, sedikitnya 38 orang tewas dan 143 lainnya luka-luka.
Sumber lain bahkan mencatat jumlah yang lebih besar sekitar 80 pelanggaran, dengan lebih dari 95 korban meninggal dan 230 orang terluka hanya dalam beberapa pekan terakhir.
Salah satu persoalan utama adalah pembukaan Perbatasan Rafah dan masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza. Meskipun perjanjian gencatan menegaskan prioritas untuk pengiriman bantuan, realisasinya jauh dari harapan. Antara 10 hingga 16 Oktober, tercatat hanya 216 truk bantuan yang berhasil masuk ke Gaza, jauh di bawah target yang dijanjikan.
Selain hambatan logistik, ketegangan juga meningkat akibat persoalan pengembalian jasad sandera dan tahanan. Israel mengklaim proses belum rampung karena masih ada jasad yang belum dikembalikan, sementara pihak Hamas menyebut kerusakan infrastruktur serta kendala teknis memperlambat proses tersebut.
Sejumlah analis menilai, gencatan senjata kali ini lebih menyerupai “jeda tembak sementara” ketimbang upaya nyata menuju perdamaian berkelanjutan.
Baca juga : Israel Tetap Batasi Bantuan ke Gaza, Komitmen Gencatan Senjata Dipertanyakan
Dalam analisis Chatham House, tantangan utama bukan sekadar menghentikan kontak senjata, melainkan memastikan perlindungan bagi warga sipil, kelancaran distribusi bantuan, serta proses pemulangan yang aman bagi korban konflik.
Bagi masyarakat Gaza, status gencatan senjata nyatanya belum banyak mengubah situasi. Kehidupan sehari-hari masih dibayangi rasa takut dan trauma. Sumber medis lokal melaporkan banyak korban baru akibat ranjau, sisa bom yang belum meledak, serta dampak psikologis berat setelah dua tahun konflik berkepanjangan.***
Editor : Hadiyin





