Kairo, LINGKARWILIS.COM β Hamas menyatakan persetujuan terhadap usulan gencatan senjata yang dimediasi Mesir dan Qatar. Rancangan kesepakatan tersebut terdiri atas tiga fase, mencakup penghentian konflik, pertukaran tahanan, hingga rencana rekonstruksi di Gaza.
Dilansir dari Aljazeera, meski demikian, Israel menanggapi dengan sikap keras. Negeri itu tetap menegaskan rencana ofensif ke Rafah, Gaza selatan, serta menargetkan penghancuran total Hamas. Sementara itu, Amerika Serikat dilaporkan masih menelaah sikap Hamas dan belum mengeluarkan pernyataan resmi.
Rincian Usulan Gencatan Senjata
-
Tahap Pertama: Gencatan senjata sementara dan penghentian operasi militer di darat. Pasukan Israel ditarik ke timur Gaza, menjauh dari kawasan padat penduduk. Penerbangan pesawat tempur dan drone Israel dihentikan selama 10 jam per hari, dan 12 jam saat proses pembebasan sandera.
-
Hamas berkomitmen membebaskan 33 sandera secara bertahap, dengan prioritas perempuan, anak di bawah 19 tahun, lansia, dan pasien sakit. Sebagai gantinya, Israel akan melepaskan 30 tahanan Palestina untuk setiap sandera sipil, dan 50 tahanan bagi tiap tentara perempuan.
-
Pada tahap ini, pengungsi Palestina diperbolehkan kembali ke rumah secara bertahap, disertai dimulainya rekonstruksi dan penyaluran bantuan kemanusiaan oleh UNRWA dan lembaga internasional lainnya.
-
Tahap Kedua: Penghentian permanen operasi militer serta penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza. Pertukaran tahanan dilanjutkan, mencakup seluruh sandera Israel yang tersisa, termasuk tentara, dengan imbalan sejumlah tahanan Palestina yang belum ditentukan.
-
Tahap Ketiga: Pertukaran jenazah dan tahanan yang masih ada, disusul rencana rekonstruksi Gaza selama 3 hingga 5 tahun. Pencabutan blokade Israel atas Gaza juga menjadi agenda penting pada fase akhir ini.
Meski Hamas menyatakan penerimaan terhadap proposal, Israel justru menginstruksikan evakuasi warga Palestina di Rafah timur dan bersiap melancarkan operasi besar.
Wakil pimpinan Hamas, Khalil al-Hayya, menegaskan keputusan akhir berada di tangan Israel. Namun, sejumlah media Israel menyebutkan isi kesepakatan yang diterima Hamas berbeda dari hasil pembicaraan sebelumnya.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang berasal dari kubu sayap kanan, terang-terangan menolak rencana tersebut dan mendesak serangan darat ke Rafah. Kabinet perang Israel bahkan bulat menyetujui kelanjutan ofensif guna menekan Hamas.
Serangan udara intens kembali dilaporkan mengguncang Gaza selatan pada Senin malam. Di sisi lain, keluarga sandera di Israel menggelar aksi protes di Tel Aviv, menuntut pemerintah segera menyetujui kesepakatan demi menyelamatkan para tawanan.***
Editor : Hadiyin





