Nganjuk, LINGKARWILIS.COM – Keluhan petani Dusun Codot, Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, terkait tidak sampainya air irigasi dari Dam Baduk mulai mendapat solusi.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas telah melakukan survei ke lokasi dan berencana mengerahkan pompa untuk menyedot air dari bawah Dam Baduk. Air tersebut selanjutnya akan dialirkan menuju saluran sekunder di wilayah Codot.
Kepala UPTD PSDA Bodor Pace Genot Pramono mengatakan, keluhan petani Dusun Codot telah mendapat perhatian dari BBWS Brantas. Setelah melakukan survei, pihak BBWS memberikan solusi melalui pemompaan air.
“Kemarin, pihak BBWS Brantas telah survei lokasi dan memberikan solusi. Hari ini BBWS Brantas akan membawa pompa air, untuk menyedot air dari bawah Dam Baduk dan dialirkan menuju saluran sekunder di Codot,” ungkap Genot, Jumat (2/10/2026).
Baca juga : Sebanyak 38 Personel Polres Nganjuk Terima Penghargaan Kapolres, Ini Rinciannya
Menurut Genot, selain upaya teknis dari pemerintah, kelancaran distribusi air irigasi juga bergantung pada kepatuhan petani terhadap aturan pembagian air.
Jika sistem gilir air dijalankan secara konsisten, air irigasi diharapkan dapat terbagi secara merata sesuai jatah masing-masing wilayah.
“Bila jatah giliran bawah, yang atas ya jangan mencuri air giliran, begitu pula sebaliknya. Jika para petani taat, air akan sampai saat giliran,” urainya.
Genot juga menyoroti adanya pembuatan sudetan pada aliran sungai, salah satunya di antara Dam Combre hingga Dam Baduk. Menurutnya, tindakan tersebut dapat memengaruhi ketersediaan debit air bagi petani di wilayah lainnya.
“Tindakan ini bisa mengurangi debit air yang seharusnya bisa dinikmati petani yang ada di area tersebut,” imbuhnya.
Sebelumnya, petani di Desa Kepanjen, khususnya Dusun Codot, mengeluhkan tidak sampainya aliran air irigasi dari Dam Baduk menuju lahan pertanian mereka.
Baca juga : Wabup Dewi Ajak Generasi Muda Kediri Perkuat Persatuan dan Jiwa Pancasilais
Petani Dusun Codot mendapat jatah aliran air irigasi selama 30 jam per minggu yang bersumber dari Sungai Kedungsuko melalui Dam Baduk. Namun, aliran tersebut tidak sampai ke saluran sekunder yang mengairi lahan pertanian mereka.
Kondisi tersebut membuat petani, yang rata-rata menanam padi pada musim tanam (MT) 3, harus mengeluarkan biaya operasional tambahan. Mereka terpaksa mencari alternatif pengairan agar tanaman padi tetap mendapatkan pasokan air.
Dengan rencana pemompaan air dari BBWS Brantas, petani berharap persoalan distribusi air irigasi menuju wilayah Codot dapat segera teratasi.***
Editor: Muji Hartono