LINGKARWILIS.COM – Di masa memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia, para pejuang yang saat itu berjuang di dominasi oleh pria.
Hal tersebut lantaran pria dirasa lebih memiliki kekuatan yang cukup untuk mempertahankan kekuatan dan memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.
Meskipun demikian, ada juga beberapa tokoh perempuan yang turut berjuang untuk meraih Kemerdekaan Indonesia.
Jika membahas tentang tokoh perempuan yang turut berjuang meraih Kemerdekaan Indonesia, ada beberapa nama yang sering dibahas.
Musim Kemerdekaan, Pedagang Bendera di Madiun Raup Untung Berlipat
Beberapa nama perempuan pejuang yang paling sering disebut dalam sejarah diantaranya, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, dan Martha Christina Cristina Tiahahu.
Namun apakah kamu mengenal sosok The Sin Nio? Ia adalah salah satu perempuan yang juga turut berjuang untuk meraih kemerdekaan bangsa.
The Sin Nio merupakan perempuan sekaligus prajurit TNI asal Wonosobo, Jawa Tengah yang turut terjun di medan pertempuran untuk meraih kemerdekaan.
Ia ikut bertempur untuk melawan Belanda dan bergabung dalam Kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18.
25 Link Desain Banner Bertema 17 Agustus, Cocok untuk Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke 80!
Mengenal Sosok The Sin Nio
Nio diketahui bergabung sebagai prajurit TNI di tahun 1943 dan langsung tergabung dalam Kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18 yang berada di bawah komando Sukarno.
Satu hal yang membuat Nio istimewa adalah ia satu satunya prajurit wanita yang ada di dalam Kompi tersebut.
Setelah bergabung, ia belum diberikan amanat untuk menggunakan senjata api. Ia akhirnya menggunakan senjata sederhana yakni golok, bambu runcing, serta tombak.
Suatu saat, ketika ia dan kelompoknya mendapat tugas untuk menghadapi pasukan Belanda, Nio berhasil merampas senapan LE dari pihak Belanda.
Karena menjadi satu-satunya perempuan yang ikut berjuang, Nio akhirnya ditarik menjadi juru rawat karena saat itu ia juga terampil dalam merawat luka, sehingga tenaganya dibutuhkan untuk para pejuang yang terluka.
Seiring berjalannya waktu, setelah kondisi negara mulai aman, Nio memutuskan untuk menikah.
Dari pernikahan tersebut, ia memiliki 6 orang anak dari 2 orang suami yang keduanya berakhir dengan perceraian.
Menjadi janda dengan 6 orang anak tentunya menjadi hal yang sangat berat baginya.
Inilah yang akhirnya membuat Nio memutuskan untuk membulatkan teladan berangkat dari Wonosobo ke Jakarta.
Keputusan ini semakin diperkuat, karena saat itu pejuang kemerdekaan tidak mendapatkan pensiun, yang semestinya menjadi hak dari para pejuang.
Saat itu Indonesia masih memiliki permasalahan etnis yang kemudian menjadi suatu masalah besar yang menyebabkan adanya ketimpangan sosial bagi Suku Tionghoa di Indonesia, dan ia adalah salah satu dari suku tersebut.
Hingga kemudian, ia menyadari kesulitan hidupnya yang dilatarbelakangi oleh fakta bahwa ia keturunan Tionghoa.
Hal tersebut membuatnya sulit untuk mendapat akses prioritas dalam kepengurusan anggota TNI saat itu.
Di tahun 1973, Nio akhirnya sampai di Jakarta. Selama berada di Jakarta, ia tinggal selama 9 bulan di Markas Besar Legiun Veteran RI yang berada di Jalan Gajah Mada.
Sulitnya mencari pekerjaan sampingan untuk menghidupi keenam anaknya membuat kehidupan Nio di Jakarta menjadi tak tentu arah.
Tentunya ini sangat menyiksa hidupnya, mengingat ia adalah salah seorang pejuang yang turut memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
Perjuangannya berakhir pada 29 Juli 1979 saat Nio berhasil mendapatkan pengakuan sebagai pejuang aktif dalam Kemerdekaan Indonesia.
Surat Keputusan pengakuan The Sin Nio dikeluarkan oleh Mahkamah Militer Yogyakarta yang ditandatangani oleh Kapten CKH Soetikno SH dan Lettu CKH Drs.Soehardjo.
Surat pengakuan The Sin Nio juga ditandatangani oleh Mayor TNI-AD Kadri Sriyono (Kastaf Kodim 0734 Diponegoro serta Dr R.Brotoseno (Dokter Militer pada Resimen 18 Divisi III Diponegoro).
Penulis: Rafika Pungki Wilujeng
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya