Semangat mengenang momentum tersebut kembali digelorakan dalam doa bersama dan tasyakuran Hari Kesaktian Pancasila yang digelar di rumah Cagar Budaya Situs Persada Soekarno, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Rabu (30/9) malam.
Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengingat kembali sisi lain dari perjalanan sejarah bangsa. Tepat 66 tahun silam, Bung Karno berdiri di podium Sidang Umum PBB dan menyampaikan pidato monumental bertajuk To Build the World Anew, sekaligus memperkenalkan Pancasila sebagai gagasan yang dapat menjadi landasan perdamaian dunia.
Ketua Panitia Penyelenggara, R.M. Kushartono, S.M., mengatakan momentum 30 September perlu dimaknai secara utuh. Menurutnya, pemahaman terhadap peristiwa sejarah penting untuk menjaga kebanggaan nasional, terutama di kalangan generasi muda.
Baca juga : Kampung Inggris Mengajar 2026 Resmi Dibuka, Polres Kediri Dorong Ruang Belajar Aman bagi Generasi Muda
“Hampir seluruh rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, hari ini mungkin tidak ingat bahwa tanggal 30 September 1960 adalah hari yang sangat membanggakan bangsa Indonesia. Pada hari itu, dasar negara Pancasila diusung oleh Presiden kita di podium tertinggi dunia, Sidang Umum PBB,” ungkap Kushartono.
Ia menambahkan, saat itu Bung Karno tidak hanya berbicara atas nama Indonesia. Menurut Kushartono, Presiden Soekarno juga membawa semangat bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam pidatonya di forum internasional tersebut.
Pidato itu, lanjutnya, memperoleh sambutan di tingkat internasional. Karena itu, momentum 30 September dinilai penting untuk terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari sejarah yang dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap bangsa Indonesia.
“Jika hari ini ingin generasi muda memiliki kebanggaan nasional bahkan internasional, maka momentum 30 September Pancasila di Dunia ini sangat penting untuk selalu disyukuri dan diperingati,” imbuhnya.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan unsur pemerintah setempat. Bhabinkamtibmas Desa Pojok, Kristanto, yang hadir mewakili unsur pemerintah, memberikan apresiasi terhadap upaya menghidupkan kembali pemahaman sejarah tersebut.
“Atas nama pemerintah desa, saya sangat mengapresiasi acara tasyakuran mengenang pidato Bung Karno di PBB tahun 1960 ini. Ini adalah kegiatan yang sangat bagus untuk menumbuhkan rasa bangga kita memiliki dasar negara Pancasila,” ujar Kristanto.
Selain doa bersama dan tasyakuran, kegiatan juga diisi sarasehan sejarah dengan menghadirkan Hendro Wijanarko, guru sekaligus penggiat sejarah Kabupaten Kediri, serta Juwaini, anggota Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri.
Baca juga : PMI Kabupaten Kediri Salurkan Bantuan Palang Merah Hongkong untuk Keluarga Korban Kebakaran
Dalam paparannya, Hendro Wijanarko menyebut Pancasila memiliki nilai yang mampu melintasi berbagai perkembangan zaman. Pancasila, menurutnya, bukan sekadar dasar negara, tetapi juga menjadi tatanan nilai yang dapat terus diaktualisasikan sesuai perubahan zaman.
“Pancasila adalah dasar negara yang sangat luar biasa karena mampu menyatukan kebinekaan Indonesia. Pancasila itu statis sekaligus dinamis—mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan selalu relevan kapan pun serta di mana pun. Kita wajib bangga dan menjaga Pancasila untuk selama-lamanya,” jelas Hendro.
Sementara itu, Juwaini menyoroti konsistensi Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok dalam mengkaji sekaligus menyebarluaskan berbagai narasi sejarah yang dinilai belum banyak diketahui masyarakat.
Menurutnya, berbagai momentum sejarah bangsa terus dikaji dan diperkenalkan melalui kegiatan di Ndalem Pojok. Hal itu termasuk pembahasan mengenai 17 Agustus sebagai momentum kemerdekaan bangsa Indonesia, 18 Agustus sebagai momentum berdirinya NKRI, hingga 30 September sebagai momentum ketika Pancasila digaungkan di forum PBB.
“Perjuangan panjang Ndalem Pojok dalam mengkaji dan menyiarkan pentingnya mensyukuri momentum sejarah ini luar biasa. Banyak hal yang luput dari perhatian masyarakat mampu diungkap di sini, seperti penegasan 17 Agustus sebagai Kemerdekaan Bangsa Indonesia, 18 Agustus Berdirinya NKRI, hingga 30 September Pancasila Menggema di PBB,” katanya.***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





