Daerah  

5 Fakta di Balik Kematian Raya, Bocah Cacingan Asal Sukabumi

5 Fakta di Balik Kematian Raya, Bocah Cacingan Asal Sukabumi
Kondisi Raya si bocah cacingan asal Sukabumi (Instagram/rumah_teduh_sahabat_iin)

LINGKARWILIS.COM – Kisah tragis meninggalnya Raya, bocah cacingan asal Sukabumi membuat warganet geger. Kondisi kesehatannya yang memprihatinkan menimbulkan pertanyaan besar bagaimana kasus ini bisa terjadi?

Raya pertama kali ditemukan oleh relawan Rumah Teduh Sahabat Iin pada Minggu, 13 Juli 2025, di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Bocah cacingan berusia 4 tahun itu adalah anak dari pasangan Udin (32) dan Endah (38). Saat ditemukan, ia terbaring lemah di tempat tidurnya dengan kondisi yang mencemaskan.

Kisah meninggalnya Raya menjadi pengingat penting bahwa warga sekitar juga harus lebih peka terhadap kondisi sosial dan kesehatan orang-orang di lingkungannya. Adapun lima fakta di balik kasus Raya si bocah cacingan.

Bertambah! Korban Meninggal Dunia Akibat Gempa Bumi di Kabupaten Poso Kini Jadi 2 Orang

5 Fakta Raya Bocah Cacingan

1. Ibu Raya Seorang ODGJ, Ayahnya Penderita TBC

Dalam video yang dibagikan relawan di Instagram @rumah_teduh_sahabat_iin, mereka menemukan bahwa Ibu Raya ternyata seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa atau ODGJ.Β  Sementara bapaknya penderita penyakit paru-paru TBC sehingga lebih sering dirawat neneknya.

Saat relawan menanyakan alasan anaknya tidak dibawa berobat, ibunya hanya tersenyum sambil mengisyaratkan bahwa mereka tidak memiliki biaya.

Secara logis, seorang ibu dengan kondisi ODGJ tentu tidak mampu merawat anak dengan baik. Kondisi keluarga yang serba terbatas membuat kesehatan Raya semakin terabaikan.

2. Tidak Memiliki Identitas dan BPJS

Saat dibawa ke RSUD, terungkap bahwa Raya tidak memiliki dokumen identitas sehingga otomatis tidak memiliki BPJS Kesehatan, baik bantuan pemerintah maupun mandiri. Relawan diberi waktu 3×24 jam untuk mengurus BPJS, namun prosesnya berbelit-belit.

Mereka dioper dari Dinsos Kota ke Dinsos Kabupaten hingga ke Dinkes Kabupaten, namun semua pihak berdalih tidak memiliki anggaran atau kerja sama dengan RSUD Kota. Akhirnya, upaya mendapatkan pembiayaan melalui BPJS berujung sia-sia.

3. Cacing Keluar dari Hidung, Mulut hingga Anus

Penanganan terhadap Raya bisa dibilang terlambat. Pasalnya, dari tubuhnya keluar cacing gelang hidup sepanjang 15 cm melalui hidung, mulut, hingga anus. Jumlahnya cacing gelang yang berasarang kemungkinan puluhan, bahkan beratnya lebih dari satu kilogram cacing sudah keluar dari tubuhnya.

Hasil CT Scan juga menunjukkan adanya ratusan telur cacing yang masih bersarang di dalam perutnya. Pemandangan itu terekam dalam video yang kemudian viral dan membuat publik terkejut.

4. Pertolongan Medis Sulit, Pemerintah Dinilai Lamban

Upaya relawan untuk mengurus pengobatan Raya terkendala birokrasi. Saat kondisi kritis, Dinkes menyarankan agar Raya dipindahkan ke rumah sakit yang lebih kecil, sementara RSUD besar di Sukabumi mengaku kewalahan menangani kasusnya.

Meski relawan sudah menunjukkan bukti berupa video keluarnya cacing dan hasil CT Scan, bantuan pemerintah tak kunjung cair.

Akhirnya, Rumah Teduh Sukabumi harus menanggung biaya pengobatan tunai dengan biaya yang fantastis, mencapai sekitar Rp11 juta per hari.

Sayangnya, perjuangan itu tidak berhasil menyelamatkan nyawa Raya. Ia menghembuskan napas terakhir pada Kamis, 22 Juli 2025.

5. Lingkungan Rumah Tidak Sehat

Sejak bayi, Raya terbiasa bermain di kolong rumah panggung bersama ayam-ayam peliharaan. Di area itu banyak ditemukan kotoran ayam, karung bekas, dan barang-barang lain yang berserakan.

Lingkungan rumah yang kotor tersebut diduga menjadi sumber masuknya larva cacing gelang ke tubuh Raya hingga akhirnya menyebabkan infeksi parah.

Kasus tragis yang menimpa Raya bukan hanya menyentuh sisi kemanusiaan, tetapi juga menjadi peringatan keras tentang pentingnya kepedulian lingkungan, akses kesehatan, serta dukungan pemerintah dalam menangani masalah sosial dan kesehatan masyarakat kecil.

Editor: Shadinta Aulia Sanjaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ayahqqklik66klik66klik66ayahqqlonteqqklik66ayahqqhalubet76klik66klik66klik66klik66https://lingkarwilis.com/mail/https://dellacortevanvitelli.edu.it/argomento/https://dellacortevanvitelli.edu.it/argomento/albo-sindacale/https://www.medicallifesciences.org.uk/ckfiles/bandarqq/index.htmlhttps://kampungdigital.id/wp-includes/js/pkv-games/https://kampungdigital.id/wp-includes/js/bandarqq/https://kampungdigital.id/wp-includes/js/dominoqq/https://youthspaceinnovation.com/about/dominoqq/https://youthspaceinnovation.com/wp-includes/bandarqq/https://dutapendidikan.id/.private/pkv/https://dutapendidikan.id/.private/bandarqq/https://dutapendidikan.id/.private/dominoqq/https://ramanhospital.in/js/pkv-games/https://ramanhospital.in/js/bandarqq/https://ramanhospital.in/js/dominoqq/https://sunatrokifun.com/wp-includes/pkv-games/https://sunatrokifun.com/wp-includes/bandarqq/https://sunatrokifun.com/wp-includes/dominoqq/https://inl.co.id/themes/pkvgames/https://inl.co.id/themes/bandarqq/https://inl.co.id/themes/dominoqq/https://vyrclothing.com/https://umbi.edu/visit/https://newtonindonesia.co.id/pkv-games/https://newtonindonesia.co.id/bandarqq/https://newtonindonesia.co.id/dominoqq/https://dkpbuteng.com/dock/pkv-games/https://dkpbuteng.com/dock/bandarqq/https://dkpbuteng.com/dock/dominoqq/https://tamanzakat.org/wp-includes/pkv/https://tamanzakat.org/wp-includes/bandarqq/https://tamanzakat.org/wp-includes/dominoqq/https://rsiaadina.com/rs/pkv-games/https://rsiaadina.com/rs/bandarqq/https://rsiaadina.com/rs/dominoqq/https://cheersport.at/doc/pkv-games/SLOT4DSLOT4D