Blitar, LINGKARWILIS.COM – Debat ketiga atau terakhir pasangan calon wali kota dan wali Kota Blitar berbeda dengan biasanya. Selain paslon mengenakan baju khas Jawa, para paslon diminta menggunakan bahasa Jawa pada segmen terakhir.
Nah, kewajiban untuk menggunakan khas Jawa itu pun tak perlu sulit dilakoni para paslon. Pasalnya, keduanya warga asli Blitar. Tak heran debat yang digelar di Gedung Kesenian di Jalan Kenari Blitar Rabu malam (13/11) berlangsung lain dari yang lain.
Paslon Syauqul Muhibbin-Elim Tyu Samba atau SAE lega usai mengikuti debat. Pasalnya sejak awal hingga akhir, keduanya mampu menguasai materi dan panggung. Bahkan visi misinya juga gamblang dan to the point.
“Sejak debat awal hingga ketiga atau terakhir ini kami visi misi yang kami utarakan lebih realistis dan mudah dipahami. Dan kami yakin, juga klop dengan kondisi Kota Blitar,” kata Syauqul Muhibbin, Kamis (14/11).
Dia mengatakan selain program-program yang sudah dicantumkan, juga tak lupa mewadahi dan menjalankan progam pemerintahan sebelumnya, dan akan menambah beberapa program unggulan.
“Di paslon lain tak ada, tetapi di kami ada. Kami juga menyoroti program beras kesejahteraan daerah atau rastrada hingga RT Keren yang tak dicantumkan di visi misi. Ini diteruskan programnya atau tidak,” sorot Syauqul.
Menanggapi itu, paslon Bambang Rianto-Bayu Setyo Kuncoro program rastrada hingga RT Keren tak perlu dijabarkan secara mendetail. Yang jelas, ketika terpilih, tetap akan melanjutkan program yang sudah berjalan.
“Tetap dijalankan, rastrada tak perlu dijabarkan detail,” bantah Bambang.
Baca juga : FAMI Kediri Kecewa Penetapan Tersangka dalam Kasus Dugaan Korupsi Program Korporasi Sapi Molor
Ketua KPU Kota Blitar, Rangga Bisma Aditya mengatakan secara umum debat berlangsung aman dan lancar. “Debat malam ini adalah terakhir yang kami fasilitasi untuk masing – masing paslon. Ini menjadi ajang untuk meyakinkan masyarakat untuk dipilih sesuai visi misi,” katanya.
Dia mengatakan debat terakhir kali ini temanya pelayanan masyarakat dan solusi permasalahan daerah.***
Reporter : Aziz Wahyudi
Editor : Hadiyin





