Blitar, LINGKARWILIS.COM – Kreativitas menjadi modal utama bagi Purwadi, warga Desa Popoh, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, dalam mengembangkan usaha kerajinan berbahan bambu.
Dari tangan terampilnya, bambu disulap menjadi berbagai produk bernilai seni tinggi, mulai dari wakul hingga replika kapal. Produk-produk ini kini diminati tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga luar daerah.

Bambu yang selama ini identik dengan perabotan rumah tangga dan kayu bakar, bagi Purwadi memiliki nilai lebih. Sejak 1999, ia menekuni usaha kerajinan bambu, meneruskan jejak sang ayah yang lebih dulu dikenal sebagai pengrajin wakul dan alat dapur tradisional.
Baca juga : Libur Imlek, Arus Kendaraan Padat Merayap di Jalan Hayam Wuruk Kota Kediri
Namun, seiring perkembangan zaman dan permintaan pasar, ia mulai berinovasi. Pada 2022, ia mencoba membuat replika kapal berbahan bambu.
“Saya mencoba memadukan konsep tradisional dengan sentuhan modern. Ternyata pasar merespons positif,” ujar Purwadi, pria berusia 35 tahun ini.
Kini, ia telah menghasilkan delapan jenis produk berbahan bambu, seperti miniatur kapal, rantang bambu, rak bumbu, rak bawang, kotak pensil, kotak tisu, serta tas dari bambu. Ia bahkan tengah mengembangkan miniatur rumah joglo yang masih dalam tahap eksperimen.
Dari segi produksi, Purwadi mengaku bambu sebagai bahan baku cukup melimpah, dan proses pengerjaannya pun relatif mudah. Wakul bambu dapat dibuat hingga tujuh buah dalam sehari, sedangkan miniatur kapal membutuhkan waktu hingga sepuluh hari, tergantung tingkat kerumitannya.
Baca juga : Libur Panjang, Taman Pinka Susuhbango, Ringinrejo, Kediri, Dibanjiri Pengunjung
Untuk harga, produk buatannya bervariasi. Wakul standar hajatan dijual seharga Rp 25 ribu, sementara ukuran terbesar—kapasitas lima kilogram—dibanderol Rp 200 ribu per unit. Replika kapal Dewaruci dengan panjang satu meter menjadi produk unggulan, dihargai Rp 2 juta per unit.
Permintaan produk bambu buatannya terus meningkat, terutama setelah ia memanfaatkan pemasaran daring. Pesanan datang dari berbagai daerah, seperti Kalimantan, Lampung, Sulawesi, Bali, serta sejumlah kota di Jawa. Rata-rata, ia mampu menjual 100 produk per bulan dengan omzet sekitar Rp 12 juta.
Meski usahanya berkembang pesat, tantangan tetap ada, terutama dalam mencari tenaga kerja yang memiliki jiwa seni untuk menghasilkan produk berkualitas. Saat ini, ia dibantu tiga pekerja untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.
“Semoga ke depan ada lebih banyak tenaga kerja yang bisa membantu, agar produksi bisa lebih maksimal,” harap Purwadi.***
Reporter: Abdul Aziz
Editor : Hadiyin





