LINGKARWILIS.COM – Malam itu, suasana di acara sarasehan “Ngaji Budaya” yang digelar oleh Anggota Komisi B DPRD Jatim, Wiwin Sumrambah, berubah haru, Sabtu malam (8/3). Ditengah hujan yang membasahi jantung Kota Santri, seorang pria dengan jas hujan plastik basah kuyup melangkah tegap memasuki lokasi acara. Namanya Cak Suwadi.
Duduk di barisan depan bersama istrinya, Sulifa, pria kelahiran 1963 ini menyimak dengan penuh perhatian setiap kata yang dilontarkan para narasumber. Namun, tak lama berselang, ia larut dalam kesedihan. Kenangan akan masa-masa kejayaan seni budaya Jombang menggetarkan hatinya.
“Saya rindu betul kesenian tradisional Jombang. Ludruk, besutan, dan berbagai tradisi yang dulu meriah, sekarang seperti hilang ditelan zaman,” ucapnya dengan suara bergetar.
Rasa rindunya begitu dalam hingga ia tak kuasa menahan emosi. Dihadapan Sumrambah, Wakil Bupati Jombang 2018-2023 yang mewakili Wiwin Sumrambah dalam acara itu, Cak Suwadi mencurahkan kegelisahannya. Dengan mata yang masih basah, ia mengisahkan betapa sulitnya kini menemukan pertunjukan budaya di kota kelahirannya.
3 Resep Es Buah Nikmat untuk Takjil Buka Puasa, Bisa Jadi Ide Jualan! Seger Poll!!
“Terakhir saya lihat besutan di Jombang itu tahun 2024 awal. Setelah itu, hampir tak pernah ada lagi,” lanjutnya, seraya menggenggam erat pundak Sumrambah.
Kesenian tradisional, yang dulu menjadi kebanggaan dan hiburan rakyat, kini kalah saing dengan pertunjukan modern seperti orkes dangdut dan pesta sound system. “Padahal, ludruk itu kalau dipahami betul, isinya bisa menenangkan hati. Tapi sekarang, orang lebih suka hiburan instan,” katanya lirih.
Melihat kesedihan Cak Suwadi, Sumrambah tak tinggal diam. Dengan penuh empati, ia menjabat erat tangan pria paruh baya itu, seakan memberi harapan baru.
“Saya turut terharu. Ini bukan sekadar keluhan, tapi panggilan hati. Saya akan perjuangkan ini bersama Ibu Dewan Wiwin Sumrambah,” ujarnya mantap.
Unik! Mahasiswa STIT-UW Jombang Wajib Menulis Al-Qur’an 30 Juz Sebagai Syarat Kelulusan
Ia berjanji akan menyampaikan aspirasi ini ke pihak terkait, bahkan jika tak bisa melalui jalur parlemen, ia akan menggandeng dinas kebudayaan dan komunitas seni lokal untuk mencari solusi nyata.
Tak hanya seni pertunjukan, Sumrambah juga menyoroti bagaimana budaya tradisional bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pertanian. Ia menyinggung tentang Pranoto Mongso, sistem kalender pertanian Jawa yang sudah lama menjadi panduan para petani dalam memahami perubahan musim.
“Kita punya tradisi yang penuh kearifan. Bahkan dalam bertani pun ada ritual khusus untuk menghormati alam. Tradisi seperti ini jangan sampai punah,” tegasnya.
Lebih jauh, Sumrambah ingin agar budaya lokal masuk ke dalam dunia pendidikan, minimal melalui ekstrakurikuler di sekolah. Ia mencontohkan sebuah sekolah di Manduro, Jombang, yang sudah mulai mengajarkan tari sandur kepada siswanya.
“Kalau bisa, seni tradisional ini menjadi bagian dari kurikulum. Anak-anak harus tahu warisan budaya mereka sendiri, bukan hanya dijejali budaya luar,” tandasnya.
Acara sarasehan malam itu dihadiri ratusan warga yang ingin memperkuat karakter masyarakat melalui budaya. Dua narasumber utama, sastrawan Imam Ghozali dan budayawan Nanda Sukmana, berbagi wawasan tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.
Cak Suwadi bukan satu-satunya yang merasakan kepedihan ini. Banyak warga yang hadir menganggukkan kepala, merasakan hal yang sama. Budaya tradisional yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini terasa semakin asing.
Namun, harapan masih ada. Selama masih ada orang-orang seperti Cak Suwadi yang peduli, dan pemimpin seperti Sumrambah yang mau bertindak, kebudayaan Jombang masih bisa diselamatkan.
Malam itu, air mata yang jatuh bukan hanya tangisan kehilangan, tetapi juga awal dari perjuangan baru untuk menghidupkan kembali warisan leluhur. (st2)
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya
