Cerita Mistis Penjaga Situs Totok Kerot, Suara Gentha hingga Pusaran Angin di Malam Hari

Cerita Mistis Penjaga Situs Totok Kerot: Suara Gentha hingga Pusaran Angin di Malam Hari
Hendris juru pelihara Tothok Kerot di Desa Buupasar Kecamatan Pagu (bakti)

KEDIRI, LINGKARWILIS.COM – Selama lebih dari satu dekade, Hendris telah menjalani perannya sebagai juru pelihara (jupel) situs bersejarah Totok Kerot yang terletak di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Sejak ditugaskan pada tahun 2011, pria bertubuh tegap ini telah menjadi sosok kunci dalam menjaga kelestarian, keamanan, dan ketertiban situs yang sarat nilai sejarah dan budaya tersebut.

Bukan hanya bertugas menjaga fisik situs, Hendris juga menyimpan beragam pengalaman mistis selama bertugas, terutama saat malam hari. Salah satu peristiwa yang paling ia ingat adalah terdengarnya suara gentha atau lonceng tanpa sumber yang jelas.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

“Saya waktu itu sedang menunggu teman. Tiba-tiba terdengar suara seperti bejana dipukul berkali-kali. Tapi saya diam saja, dan lama-lama suara itu menghilang sendiri,” ujar Hendris.

Baca juga : Sebanyak 30 Narapidana Lapas Kediri Ikuti Uji Kompetensi Barbershop, Jadi Bekal Mandiri Usai Bebas

Pengalaman lain yang tak kalah aneh, lanjutnya, adalah saat pusaran angin tiba-tiba muncul hanya di satu titik lokasi tanpa sebab yang jelas. “Anginnya kencang, tapi hanya di satu tempat. Saya tetap tenang, dan seperti sebelumnya, angin itu hilang begitu saja,” ungkapnya.

Sebagai jupel, Hendris juga kerap mendampingi para pengunjung yang datang untuk menggali informasi sejarah Totok Kerot. Mulai dari warga lokal hingga pelajar, mahasiswa, bahkan peneliti, sering datang untuk belajar langsung tentang legenda, sejarah, dan mitos yang melekat pada situs tersebut.

“Biasanya mereka datang untuk tugas sekolah atau penelitian. Yang penting selama berada di area ini, jangan melakukan hal-hal yang tidak semestinya,” pesannya.

Baca juga : ATC Kediri Gelar Orientasi Siswa Baru Angkatan ke-23, Jurusan Staf Bandara Paling Diminati

Hendris sendiri merupakan juru pelihara bersertifikat yang memiliki pemahaman mendalam tentang sejarah dan budaya Kediri. Pengetahuannya tentang Totok Kerot membuatnya dipercaya menjadi narasumber utama bagi setiap pengunjung yang ingin mengetahui lebih dalam tentang situs ini.

Tak hanya itu, dalam tradisi lokal, situs Totok Kerot kerap dikunjungi warga yang hendak menggelar hajatan seperti pernikahan atau khitanan. Mereka membawa sesaji lengkap sebagai bentuk permisi atau “kulo nuwun”, sebuah praktik yang masih lestari hingga kini.

“Sudah biasa warga datang membawa ubo rampe sebelum punya hajat besar. Itu bagian dari tradisi dan bentuk penghormatan,” tutup Hendris.***

Reporter: Bakti Wijayanto
Editor: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *