Kediri, LINGKARWILIS.COM β Suasana khidmat menyelimuti Situs Persada Soekarno di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jumat malam (18/7), saat ratusan pusaka menjalani ritual jamasan. Aroma dupa dan alunan doa mengiringi prosesi sakral ini yang berlangsung hingga dini hari.
Dua pusaka milik Presiden Soekarno, yakni keris dan tombak Kyai Gadakan, menjadi pusat perhatian dalam tradisi pembersihan benda bersejarah tersebut. Lebih dari 200 pusaka dari berbagai daerah turut serta dalam upacara jamasan ini.
Ritual ini merupakan hasil kolaborasi antara Keluarga Ndalem Pojok, komunitas Garudamuka, Pelestari Budaya Khadiri, dan sejumlah komunitas budaya lainnya. Pendopo Situs Persada Soekarno menjadi ruang sakral tempat berlangsungnya prosesi penuh makna ini.
Baca juga :Β Persik Kediri Hadapi Asia Warriors, Manajemen Imbau Suporter Jaga Stadion Brawijaya
Kushartono, Ketua Harian Situs Persada Soekarno Kediri, menyampaikan bahwa tradisi jamasan sudah dilakukan secara turun-temurun, namun baru lima tahun terakhir terbuka untuk publik sebagai bentuk edukasi budaya.
“Tradisi jamasan dulunya bersifat tertutup. Kini dibuka agar generasi muda bisa ikut mengenal dan merawat warisan budaya bangsa,” ujarnya.
Penyelenggara berharap kegiatan ini bisa menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mencintai kebudayaan leluhur. Mereka juga mengapresiasi seluruh pihak yang turut berkontribusi melestarikan tradisi ini.
Baca juga :Β Tak Lekang Zaman, Bu Parinem Penjual Jamu Keliling Kediri Asal Solo Ini Tetap Setia Sejak 1980-an
Salah satu pelaku jamasan, Jeje, mendapat amanah untuk merawat langsung pusaka-pusaka piandel milik Presiden Soekarno. Ia menyebut, ada perlakuan khusus dalam membersihkan keris dan tombak Kyai Gadakan karena merupakan peninggalan tokoh besar bangsa.
“Alhamdulillah, prosesi jamasan berjalan lancar sampai dini hari. Selain pusaka Bung Karno, ada lebih dari 200 pusaka lainnya yang ikut dirawat,” kata Jeje.
Ia menambahkan, pusaka yang dijamas tidak hanya berasal dari Kediri, tapi juga dari berbagai daerah seperti Sidoarjo, Jombang, Malang, hingga Jakarta. Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap pelestarian budaya masih sangat tinggi.
Yang menarik, acara ini juga banyak dihadiri oleh kalangan muda. “Banyak anak muda yang ikut. Ini bukti bahwa minat terhadap budaya tidak hanya milik generasi tua,” tutupnya.***
Reporter: Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin


