KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Kondisi bantaran Sungai Kedak di wilayah Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, kian memprihatinkan. Erosi tanah yang terjadi secara terus-menerus dinilai berisiko menimbulkan banjir serta longsor, terutama saat intensitas hujan tinggi. Jika tidak segera ditangani dengan pembangunan plengsengan permanen maka akibatnya bisa serius.
Lurah Ngampel, Moch. Subagiyo, menyampaikan bahwa persoalan abrasi Sungai Kedak sebenarnya telah menjadi perhatian sejak beberapa tahun lalu. Bahkan, sejumlah titik rawan telah ditinjau oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 2022 dan kembali pada 2025, meski belum seluruhnya tertangani.
“Beberapa titik yang kondisinya paling darurat, seperti plengsengan di dekat masjid yang sempat ambrol dan membahayakan warga, sudah didahulukan penanganannya. Namun masih banyak laporan warga lain yang hingga kini belum tersentuh,” ujar Subagiyo di sela peninjauan langsung di sepanjang bantaran Sungai Kedak, Senin (12/1/2026).
Baca juga : CFD Kota Kediri Kian Ramai, Parkir Penuh Sejak Pagi Jadi Indikator Geliat Ekonomi Warga
Subagiyo menambahkan, kebutuhan pembangunan plengsengan dinilai mendesak dengan panjang sekitar 500 hingga 700 meter, mencakup sisi utara wilayah Ngampel dan sisi selatan wilayah Mojoroto, guna menahan laju abrasi dan mencegah dampak yang lebih luas.
“Harapan warga, plengsengan di kanan dan kiri Sungai Kedak yang bermuara ke Sungai Brantas ini bisa segera dibangun agar ancaman banjir dan longsor dapat diminimalisir,” lanjutnya.
Guna mempercepat penanganan, tambah Subagiyo, Kelurahan Ngampel kembali menyiapkan laporan resmi yang akan disampaikan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Kediri untuk selanjutnya diteruskan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Kami telah melakukan langkah antisipatif bersama BPBD, Dinas PU, serta warga setempat, di antaranya dengan pemasangan karung pasir di sejumlah titik rawan sebagai pengamanan sementara,” sambungnya.
Baca juga : Transaksi Produksi Ikan Air Tawar Kabupaten Kediri 2025 Tembus Rp 482,6 Miliar
Sementara itu Kasi Trantib Kecamatan Mojoroto, Rizki, menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut keselamatan masyarakat.
“Potensi kerusakan semakin besar dan debit air sungai cukup membahayakan permukiman warga, terlebih curah hujan saat ini cukup tinggi. Karena itu kami mendesak agar pembangunan plengsengan Sungai Kedak segera direalisasikan,” tegasnya.***
Reporter: Agus Sulistyo Budi
Editor: Hadiyin





