Kediri, LINGKARWILIS.COM – Mbah Kardi tampak duduk santai di lapak durian milik anak keduanya yang berada di depan GOR Joyoboyo, Sabtu (28/2/2026) malam. Di tempat itulah, lelaki sepuh tersebut kembali membuka lembaran kisah panjang perjalanan hidupnya sebagai pedagang durian sejak 1971.
Usaha itu ia rintis dari wilayah Tulungagung dalam segala keterbatasan. Pada masa tersebut, kendaraan bak terbuka belum menjadi pemandangan lazim. Distribusi durian dilakukan dengan cara sederhana, mengandalkan tenaga dan ketahanan fisik.
“Sekarang sudah enak, ada mobil pick up. Kalau zaman saya dulu harus mengayuh sepeda ontel sambil membawa obrok,” tuturnya dengan senyum tipis, mengenang masa-masa penuh perjuangan.
Bukan hanya persoalan alat angkut yang menjadi tantangan. Ketersediaan stok juga kerap menjadi ujian tersendiri. Saat pasokan kosong, pedagang dituntut sigap mencari alternatif agar roda usaha tetap berputar.
Baca juga : Bus Satria Mengaspal, Kafe Jadi Ruang Baca, Literasi Kota Kediri Naik Kelas
“Kalau barang kosong ya harus pintar beralih ke dagangan lain,” ucapnya pelan, sembari mengusap mata dan menarik napas panjang, seolah menghidupkan kembali memori masa-masa sulit yang pernah ia lalui.
Lebih dari setengah abad berjualan, ia merasakan betul dinamika usaha rakyat. Kebahagiaan datang saat pelanggan merasa puas dan kembali membeli. Namun ada pula masa berat ketika harga dari petani melonjak sementara daya beli masyarakat menurun.
Dalam hal kualitas, Mbah Kardi tetap memegang teguh prinsip menjual durian lokal. Baginya, durian yang baik harus matang alami, berdaging tebal, bercita rasa manis legit tanpa pahit, serta tidak mengeluarkan aroma tengik.
Kini, tongkat estafet perjuangan itu telah beralih ke generasi berikutnya. Anak keduanya meneruskan usaha keluarga di depan GOR Joyoboyo Kota Kediri. Meski telah purnatugas, Mbah Kardi sesekali menyambangi lapak tersebut untuk memantau perkembangan sekaligus memastikan nilai kejujuran dan kualitas tetap menjadi fondasi utama.
Baca juga : Operasi Pasar Murni Ramadan 1447 H, Pemkot Kediri Gelar 13 Titik OPM untuk Tekan Harga Bahan Pokok
Perjalanan dari sepeda ontel dan obrok hingga mobil pick up bukan sekadar cerita tentang perdagangan buah. Kisah Mbah Kardi menjadi potret ketekunan pedagang kecil yang mampu bertahan, beradaptasi, dan melintasi perubahan zaman dengan semangat yang tak pernah padam.***
Reporter: Agus Sulistyo Budi
Editor: Hadiyin





