JOMBANG, LINGKARWILIS.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan meski hingga kini belum ada laporan warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Kondisi tersebut disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jombang, Wiku Birawa Filipe Diaz Quintas. Menurutnya, kebutuhan air masyarakat hingga saat ini masih tercukupi dan belum ada kecamatan yang mengajukan permintaan suplai air bersih.
“Sementara kita masih tercukupi kebutuhan air. Dan dari kecamatan belum ada yang meminta suplai untuk air bersih,” ucap Wiku kepada awak media, Kamis (10/9/2026).
Meski situasi masih aman, BPBD mulai memberi perhatian khusus terhadap sejumlah wilayah yang memiliki potensi mengalami kekeringan, terutama kawasan utara Jombang.
“Untuk wilayah utara ada potensi. Semoga saja kebutuhan air masih tercukupi,” imbuhnya.
Baca Juga : Keluhan Perubahan Desil Jadi Perhatian Mas Dhito, Pemkab Kediri Perkuat Sosialisasi Perbaikan Data
Wiku menjelaskan, berdasarkan kondisi normal, kekeringan di Kabupaten Jombang biasanya mulai terjadi sekitar Oktober. Namun, pihaknya masih menunggu perkembangan dan rilis terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kondisi musim kemarau.
“Kalau normal biasanya sekitar bulan Oktober, cuma kita juga masih menunggu rilis dari BMKG,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Jombang telah melakukan pemetaan daerah yang berpotensi terdampak kekeringan sejak 24 Juni 2026. Beberapa wilayah yang menjadi perhatian antara lain Kecamatan Bareng dan Wonosalam, termasuk kawasan di utara Sungai Brantas.
“Seperti Kecamatan Plandaan, Kabuh, dan Ngusikan, juga masuk dalam kawasan yang perlu diantisipasi,” paparnya.
Selain potensi kekurangan air, BPBD juga memetakan wilayah yang rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kawasan yang masuk pemantauan antara lain Wonosalam, Plandaan, Kabuh, dan Ngusikan.
Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan selama musim kemarau. BPBD memastikan personel, sarana, hingga peralatan penanggulangan bencana telah dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan kejadian di lapangan.
“Kami siapkan semuanya untuk melakukan penanganan, baik untuk kekeringan maupun kebakaran hutan, lahan, dan lainnya,” terang Wiku.
Baca juga : Kurangi Beban TPA Sekoto, DLH Kediri Gencarkan Pemilahan Sampah dari Sumbernya
Di sisi lain, Wiku menyebut tren bencana kekeringan di Jombang menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu faktor yang dinilai berpengaruh adalah pembangunan jaringan air bersih yang semakin membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Bahkan, sejak 2023 tidak lagi tercatat adanya bencana kekeringan di wilayah Kabupaten Jombang. Meski demikian, BPBD tetap meminta masyarakat tidak lengah karena kondisi cuaca dan ketersediaan air dapat berubah sewaktu-waktu.
Warga yang berada di wilayah rawan juga diimbau tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan maupun membuka lahan dengan menggunakan api.
“Warga juga diminta memeriksa instalasi listrik secara berkala untuk mengurangi risiko kebakaran akibat korsleting,” pungkasnya.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan kejadian kebakaran ataupun mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Laporan dapat disampaikan melalui layanan 112 maupun kanal resmi BPBD Kabupaten Jombang.***
Reporter: Taufiqur Rachman
Editor : Hadiyin