Jombang, LINGKARWILIS.COM – Persoalan limbah industri tahu yang selama ini dikeluhkan warga Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, bakal mendapat penanganan melalui pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal.
Fasilitas pengolahan limbah tersebut ditargetkan mulai dibangun tahun ini dengan dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Pertamina. Nilai dukungan anggaran yang disiapkan diperkirakan mencapai sekitar Rp7,5 miliar.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang, Menis Agus Muttaqin, membenarkan rencana tersebut.
“Insyaallah IPAL komunal siap dibangun tahun ini. Pembangunannya didukung dana CSR dari Pertamina,” ujar Menis saat dikonfirmasi mengenai persoalan limbah industri, Jumat (25/9/2026).
Menurut Menis, rencana pembangunan IPAL sebenarnya telah dipersiapkan sejak tahun sebelumnya. Namun, prosesnya membutuhkan sejumlah tahapan, termasuk koordinasi serta pembahasan mengenai teknologi yang akan digunakan dalam pengolahan limbah.
Baca juga : 30 Hektare Lahan Tebu di Sumobito Jombang Terbakar, Petugas Berjibaku Hampir 5 Jam
Untuk nilai anggaran, Menis menyebut bantuan CSR yang disiapkan berada di kisaran Rp7,5 miliar. Meski demikian, ia belum dapat memastikan besaran anggaran secara persis.
“Kalau tidak salah, kisarannya sekitar Rp7,5 miliar. Untuk detailnya saya kurang ingat,” imbuhnya.
Selain persoalan teknis, ketersediaan lahan juga menjadi bagian yang sebelumnya harus diselesaikan. Saat ini, lahan untuk pembangunan IPAL telah tersedia setelah dibeli secara swadaya oleh paguyuban pengusaha tahu.
Para pengusaha tahu yang tergabung dalam paguyuban tersebut melakukan urunan untuk membeli lahan dari warga yang kemudian akan digunakan sebagai lokasi pembangunan fasilitas pengolahan limbah.
“Lahannya sudah clear. Paguyuban melakukan urunan untuk membeli lahan dari warga,” terangnya.
Dengan lahan yang sudah tersedia, pembangunan IPAL komunal kini tinggal menunggu proses pelaksanaan. Fasilitas tersebut nantinya diharapkan dapat mengolah limbah dari aktivitas produksi tahu sebelum dibuang ke lingkungan.
DLH Jombang berharap keberadaan IPAL tidak hanya menjadi solusi sesaat. Pengelolaan limbah diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga pembuangan limbah industri tahu ke sungai dapat ditekan.
Baca juga : KAI Daop 7 Madiun Cek Jalur Kediri-Tulungagung, Pastikan Petugas Siap dan Sehat
Menis menjelaskan, setelah pembangunan selesai, operasional IPAL tidak akan menjadi tanggung jawab DLH. Pengelolaan fasilitas tersebut nantinya diserahkan kepada paguyuban pengusaha tahu.
Bahkan, paguyuban telah membentuk koperasi yang diproyeksikan menangani operasional dan kebutuhan pengelolaan IPAL setelah fasilitas tersebut mulai digunakan.
“Untuk biaya operasional IPAL selanjutnya akan menjadi tanggung jawab paguyuban. Paguyuban juga sudah membentuk koperasi untuk mengelola operasionalnya,” ungkap Menis.
Sementara itu, DLH Jombang akan mengambil peran sebagai pendamping dan pembina. Instansi tersebut juga memberikan arahan terkait teknologi pengolahan limbah yang dinilai sesuai dengan kemampuan pengelola.
Menis mengatakan, pemilihan teknologi menjadi hal penting karena fasilitas tersebut harus dapat dioperasikan secara berkelanjutan. Karena itu, DLH mengusulkan teknologi yang memiliki biaya operasional relatif terjangkau agar tidak membebani paguyuban pengusaha tahu.
“DLH sebagai pendamping. Kita mendampingi, membina dan mengarahkan. Ini bukan persoalan yang baru, sudah cukup lama kita upayakan penyelesaiannya, termasuk dalam pemilihan teknologi,” jelasnya.
Usulan teknologi tersebut, lanjut Menis, juga telah dibahas dengan kementerian terkait. Harapannya, teknologi yang digunakan nantinya mampu menekan biaya operasional sehingga IPAL dapat berjalan dalam jangka panjang.
“Teknologi ini yang kita usulkan ke kementerian untuk bisa digunakan. Harapannya, biaya operasionalnya murah sehingga memudahkan paguyuban dalam menjalankan IPAL tersebut,” pungkasnya.
Rencana pembangunan IPAL ini tidak terlepas dari keluhan warga terkait kondisi Sungai Sekunder Rejoagung 2 di Dusun Murong Santren, Desa Mayangan. Sebelumnya, pada Senin (14/9/2026), bau menyengat tercium dari aliran sungai yang kondisinya nyaris tanpa air.
Dasar sungai saat itu terlihat dipenuhi endapan berwarna kecokelatan dan sejumlah sampah. Beberapa saluran pembuangan dari permukiman juga tampak bermuara langsung ke badan sungai. Salah satu saluran bahkan terlihat mengeluarkan cairan berwarna putih.
Warga menduga cairan tersebut berkaitan dengan limbah produksi tahu. Namun, dugaan mengenai sumber pencemaran tersebut masih membutuhkan pemeriksaan dan verifikasi dari instansi yang berwenang.
Umar Mahmud, warga Dusun Murong Santren yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak 1999, mengatakan persoalan kondisi sungai bukan baru terjadi. Menurutnya, kondisi semakin mengganggu terutama ketika musim kemarau.
“Yang jadi keluhan itu limbah tahu, kotoran hewan, dan sampah-sampah. Kalau kemarau, parah. Baunya sangat menyengat sampai bikin dada sesak dan panas,” ujar Umar, Senin (14/9/2026).
Ia menuturkan, material yang masuk ke sungai berasal dari sejumlah sumber. Selain dugaan limbah tahu, warga juga menemukan kotoran hewan serta sampah rumah tangga di aliran sungai.
Minimnya debit air saat musim kemarau membuat endapan dan berbagai material tersebut tidak segera terbawa arus. Kondisi itulah yang menurut warga membuat bau semakin menyengat dan mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.
“Kalau musim hujan airnya penuh dan kotoran terbawa. Tapi kalau kemarau, parah. Setiap hari baunya terasa,” tutup Umar. ***
Reporter: Taufiqur Rachman
Editor : Hadiyin





