Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Komisariat Kediri dan Madiun kembali menggelar Financial Journalist Class Sesi 3. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara industri jasa keuangan dan insan pers dalam menyajikan informasi yang edukatif, akurat, sekaligus bermanfaat bagi masyarakat.
Mengangkat tema “Ekosistem Keuangan Digital Perbankan dan Dana Pensiun”, kegiatan tersebut membahas perkembangan industri jasa keuangan, transformasi teknologi digital dalam layanan perbankan, hingga pentingnya perlindungan sosial dan perencanaan keuangan untuk menghadapi masa pensiun.
Sebanyak 22 jurnalis bidang keuangan dari wilayah Kediri dan Madiun Raya mengikuti kegiatan tersebut. Melalui forum ini, para peserta mendapatkan pemahaman lebih luas mengenai perkembangan sektor jasa keuangan, inovasi layanan perbankan digital, manfaat program jaminan sosial ketenagakerjaan, serta pentingnya mempersiapkan keuangan untuk masa pensiun.
Dalam pemaparannya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri menyampaikan perkembangan industri jasa keuangan di wilayah kerjanya berdasarkan posisi Juli 2026.
Baca jugav : KAI Daop 7 Madiun Cek Jalur Kediri-Tulungagung, Pastikan Petugas Siap dan Sehat
Pada sektor perbankan, total aset tercatat mencapai Rp122,49 triliun atau tumbuh 7,05 persen secara year on year (YoY). Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp114,93 triliun atau tumbuh 8,41 persen YoY. Sementara penyaluran kredit mencapai Rp87,87 triliun dengan pertumbuhan 1,98 persen YoY.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank Perekonomian Rakyat (BPR) tumbuh 10,45 persen YoY. Sedangkan penyaluran kredit Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) tumbuh 6,80 persen YoY.
Kepala OJK Kediri Ismirani Saputri juga memaparkan kinerja edukasi dan pelindungan konsumen. Dalam periode 1 Januari hingga 31 Agustus 2026, OJK Kediri telah melaksanakan 70 kegiatan edukasi yang diikuti 14.058 peserta.
Selain itu, OJK Kediri menerima 1.704 pengaduan konsumen dan 7.624 permintaan layanan terkait Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
“Selain perkembangan industri, OJK Kediri juga menyampaikan kinerja edukasi dan pelindungan konsumen. Sepanjang 1 Januari hingga 31 Agustus 2026, OJK Kediri telah melaksanakan 70 kegiatan edukasi dengan total 14.058 peserta serta menerima 1.704 pengaduan konsumen dan 7.624 permintaan layanan terkait Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK),” kata Ismirani, 28 September 2026.
Materi berikutnya disampaikan Kepala Urusan Sistem Operasi PT Bank Central Asia Tbk Wilayah VII, Noverdianto Arsyad. Ia memaparkan perkembangan ekosistem keuangan digital melalui integrasi berbagai layanan perbankan untuk nasabah individu maupun pelaku usaha.
Baca juga : Cegah Super Flu, Dinkes Kabupaten Kediri Imbau Warga Pakai Masker dan Hindari Kerumunan
Transformasi digital BCA dilakukan melalui sejumlah kanal, mulai dari layanan mobile banking myBCA dan BCA mobile, layanan perbankan bisnis, sistem pembayaran digital, hingga pengembangan layanan berbasis teknologi di kantor cabang.
Dalam tiga tahun terakhir, volume transaksi yang diproses BCA disebut meningkat 60 persen. Sementara penggunaan aplikasi myBCA tumbuh 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada semester I 2026, volume transaksi melalui aplikasi tersebut juga meningkat 45 persen.
BCA turut mengembangkan OCEAN by BCA, platform berbasis website yang menjadi pusat layanan daring untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan transaksi bisnis. Layanan tersebut ditujukan bagi nasabah bisnis maupun calon nasabah, baik melalui layanan yang disediakan langsung oleh BCA maupun mitra yang bekerja sama.
Transformasi digital juga diterapkan di jaringan kantor cabang melalui pemanfaatan sejumlah perangkat seperti Star Teller, CS Digital dan E-Service. Penggunaan teknologi tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan kenyamanan bagi nasabah.
Saat ini, sebanyak 84 persen transaksi di kantor cabang telah menggunakan aplikasi eBranch. Angka tersebut meningkat 26 persen dibandingkan tiga tahun sebelumnya pada periode yang sama.
Materi lainnya disampaikan Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kediri Suriyadi yang membahas pelaksanaan program jaminan sosial ketenagakerjaan di wilayah Kediri dan Nganjuk.
Hingga Agustus 2026, BPJS Ketenagakerjaan Kediri telah memberikan perlindungan kepada 64.917 tenaga kerja di Kota Kediri, 245.654 tenaga kerja di Kabupaten Kediri, serta 167.163 tenaga kerja di Kabupaten Nganjuk.
Pada periode tersebut, BPJS Ketenagakerjaan juga telah membayarkan manfaat senilai Rp366,8 miliar kepada 30.071 tenaga kerja dan ahli waris.
Rinciannya, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebesar Rp25,1 miliar kepada 1.521 tenaga kerja, Jaminan Kematian (JKM) Rp24,7 miliar kepada 603 tenaga kerja, Jaminan Hari Tua (JHT) Rp307,4 miliar kepada 26.070 tenaga kerja, dan Jaminan Pensiun (JP) Rp7,7 miliar kepada 913 tenaga kerja.
Selain itu, manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang telah dibayarkan mencapai Rp1,5 miliar kepada 208 tenaga kerja. BPJS Ketenagakerjaan juga menyalurkan beasiswa senilai Rp7,5 miliar kepada 1.487 anak tenaga kerja.
Rangkaian Financial Journalist Class Sesi 3 kemudian ditutup dengan diskusi dan tanya jawab. Peserta berkesempatan menggali lebih jauh mengenai perkembangan industri jasa keuangan, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, serta pemanfaatan teknologi dalam layanan keuangan digital.
Melalui kegiatan tersebut, FKIJK Komisariat Kediri dan Madiun berharap komunikasi dan sinergi dengan insan pers semakin kuat. Dengan demikian, informasi mengenai produk, layanan, serta perkembangan industri jasa keuangan dapat disampaikan secara edukatif, akurat, dan mudah dipahami masyarakat.
Upaya tersebut sekaligus diharapkan dapat mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan, khususnya di wilayah Kediri dan Madiun Raya.***
Editor : Hadiyin

