FKIJK Kediri-Madiun Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Lewat Financial Journalist Class

FKIJK Kediri-Madiun Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Lewat Financial Journalist Class
Sesi Foto Para jurnalis dari sejumlah perwakilan media ketika mengikuti FKIJK di Kediri (Ist)

KEDIRI, LINGKARWILIS.COM – Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Komisariat Kediri dan Madiun kembali menggelar Financial Journalist Class Sesi 2 sebagai upaya memperkuat kolaborasi antara industri jasa keuangan dan insan pers dalam menyajikan informasi yang akurat, edukatif, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Mengangkat tema “Menguatkan Ekosistem Syariah: Peran OJK dan FKIJK dalam Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah”, kegiatan tersebut membahas perkembangan industri jasa keuangan syariah, khususnya perbankan syariah, Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS), serta perusahaan pembiayaan berbasis syariah.

Kegiatan yang berlangsung di BSI KCP Kediri Bandar itu diikuti para jurnalis dari berbagai media di wilayah Kediri dan Madiun Raya.

Selain perkembangan industri keuangan syariah, para peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 kategori syariah, termasuk karakteristik dan berbagai produk jasa keuangan syariah.

Baca juga : Dua Hari, 200 Peserta Meriahkan Festival Lansia Kabupaten Kediri 2026

Pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi insan pers dalam menyampaikan informasi mengenai keuangan syariah secara tepat, edukatif, dan berimbang kepada masyarakat.

Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala OJK Kediri sekaligus Pembina FKIJK Komisariat Kediri dan Madiun, Ismirani Saputri.

Dalam kesempatan itu, Ismirani menyampaikan bahwa hasil SNLIK 2026 menunjukkan indeks literasi dan inklusi keuangan secara umum mengalami peningkatan. Namun, kondisi berbeda terjadi pada sektor keuangan syariah yang indeks literasi dan inklusinya masih stagnan bahkan cenderung mengalami penurunan.

Secara nasional, indeks literasi keuangan syariah tercatat sebesar 43,07 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan syariah mencapai 13,24 persen.

Angka tersebut masih berada jauh di bawah indeks literasi keuangan nasional yang mencapai 69,57 persen dan indeks inklusi keuangan nasional sebesar 93,61 persen. Dengan demikian, terdapat selisih sebesar 26,50 persen pada indeks literasi dan 80,37 persen pada indeks inklusi.

Kondisi serupa juga terjadi di Jawa Timur. Pada 2026, indeks literasi keuangan syariah di Jawa Timur tercatat sebesar 43,41 persen, sementara indeks literasi keuangan komposit mencapai 72,07 persen.

Baca juga : Wasiat Sang Ayah Terwujud, Tiga Korban Kebakaran Tebet Dimakamkan Bersama di Kediri

Adapun indeks inklusi keuangan syariah di Jawa Timur hanya mencapai 12,64 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan komposit berada pada angka 91,86 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat sekaligus pemanfaatan layanan keuangan berbasis syariah, baik secara nasional maupun di Jawa Timur, masih memiliki peluang besar untuk terus ditingkatkan.

Gambaran tersebut juga terlihat dari komposisi industri jasa keuangan di wilayah kerja Kantor OJK Kediri. Dari total 65 bank umum, terdapat delapan bank umum syariah atau sekitar 12,3 persen, sementara 57 lainnya merupakan bank umum atau sekitar 87,7 persen.

Pada kelompok BPR, dari total 62 lembaga terdapat sembilan BPRS atau sekitar 14,5 persen dan 53 BPR atau sekitar 85,5 persen.

Sementara pada sektor lembaga keuangan mikro, terdapat empat LKMS atau sekitar 23,5 persen dan 13 LKM atau sekitar 76,5 persen dari total 17 lembaga.

“Data hasil SNLIK dan sebaran kantor LJK memperlihatkan bahwa porsi lembaga keuangan syariah memang masih lebih kecil dibandingkan konvensional atau nonsyariah,” ujar Ismirani.

Meski demikian, kondisi tersebut menurutnya justru menjadi peluang untuk memperluas akses masyarakat, meningkatkan pemahaman, serta memperkuat ekosistem keuangan syariah.

“Karena itu, pengembangan keuangan syariah tidak hanya menjadi tanggung jawab industri, tetapi membutuhkan sinergi OJK, pemerintah daerah, pelaku usaha jasa keuangan, media, komunitas, serta seluruh pemangku kepentingan agar masyarakat semakin mengenal, memahami, dan pada akhirnya memanfaatkan layanan keuangan syariah sesuai kebutuhan,” lanjutnya.

Dalam kegiatan tersebut, Area Manager BSI Area Kediri, Angga Wahyuda Prawiroso, turut memaparkan peran BSI dalam memberikan layanan kepada calon jemaah haji, mulai dari proses pendaftaran hingga pelunasan.

Selain itu, BSI juga terus mengembangkan layanan Bank Bullion melalui sejumlah produk, seperti Tabungan Emas, Cicil Emas, dan gadai emas.

Hingga Juli 2026, BSI di wilayah Kediri dan sekitarnya mencatat pertumbuhan Number of Account (NoA) baru sebesar 15,03 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Pertumbuhan Dana Haji mencapai 16,73 persen YoY. Sementara Tabungan Emas mencatat pertumbuhan signifikan dengan kenaikan NoA sebesar 1.175,30 persen YoY dan pertumbuhan gramasi sebesar 152,37 persen YoY.

Pencapaian tersebut juga didukung penguatan layanan digital melalui aplikasi BYOND by BSI. Layanan tersebut memungkinkan masyarakat membuka Tabungan Haji maupun Tabungan Emas secara digital.

Aplikasi itu juga menyediakan sejumlah fitur lain, seperti informasi jadwal salat, paket umrah, lokasi ATM dan kantor cabang terdekat, hingga berbagai informasi mengenai program-program BSI.

Dengan pengembangan layanan digital tersebut, masyarakat diharapkan dapat memperoleh layanan perbankan yang lebih mudah, cepat, dan nyaman.

Sementara itu, Regional Manager PT Adira Multi Finance Tbk Area Jawa Timur, Ahmad Syauqi, menyampaikan bahwa Adira Finance terus memperkuat perannya dalam pemberdayaan masyarakat melalui Unit Usaha Syariah.

Fokus utama perusahaan adalah menyediakan berbagai solusi pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah, mulai dari pembiayaan kendaraan, pembiayaan multiguna, hingga pembiayaan untuk kebutuhan ibadah.

Hingga akhir 2025, Adira Finance mencatatkan kinerja positif pada segmen pembiayaan syariah. Total penyaluran pembiayaan baru berbasis syariah mencapai Rp9,8 triliun atau sekitar 23 persen dari keseluruhan pembiayaan baru perusahaan sepanjang 2025.

Sebelumnya, hingga November 2025, pembiayaan syariah Adira Finance telah tumbuh 13 persen secara tahunan menjadi Rp8,1 triliun dengan kontribusi sekitar 21 persen terhadap total portofolio pembiayaan baru.

Adira Finance terus mendorong inovasi berbagai produk pembiayaan agar masyarakat memiliki akses terhadap layanan keuangan yang lebih mudah, terpercaya, dan sesuai dengan kebutuhan.

Melalui Financial Journalist Class Sesi 2, FKIJK Komisariat Kediri dan Madiun berharap kolaborasi antara industri jasa keuangan dan insan pers semakin kuat.

Sinergi tersebut diharapkan dapat membantu menyampaikan informasi mengenai perkembangan industri, produk, serta layanan keuangan syariah secara edukatif, akurat, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.***

Editor : Hadiyin

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *