Pompa Irigasi Diduga Bikin Sumur Warga Mojowarno Kering, Ibu-Ibu Terpaksa Ambil Air di Saluran Sawah

Pompa Irigasi Diduga Bikin Sumur Warga Mojowarno Kering, Ibu-Ibu Terpaksa Ambil Air di Saluran Sawah
Warga tampak mengambil air ke galon serta cuci pakaian di saluran irigasi perpompaan atau Irpom yang dekat persawahan di Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Selasa (6/10/2026)

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Persoalan keberadaan proyek irigasi perpompaan (Irpom) di Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, belum juga menemukan solusi. Warga mengeluhkan sumur rumah mereka mengering sejak pompa irigasi digunakan untuk mengairi sawah.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga terpaksa mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka bahkan harus mengambil air dari saluran irigasi yang berada di sekitar area persawahan, mulai untuk mandi, mencuci pakaian hingga mengisi galon untuk dibawa pulang.

Pantauan di lokasi, Selasa (6/10/2026), sejumlah warga terlihat bergantian mendatangi ujung selang Irpom yang berada di saluran irigasi. Beberapa warga mencuci pakaian, sementara lainnya mengambil air menggunakan galon kosong.

Siti Nur Amnik (55), warga Dusun Guwo, mengaku terpaksa mengambil air di lokasi tersebut karena sumur di rumahnya tidak lagi mengeluarkan air.

“Saya terpaksa ambil air karena sumurnya tidak ada airnya,” ujar Siti saat ditemui tengah mengisi air.

Baca juga : Sebanyak 16 PPPK Paruh Waktu Jombang Pilih Mundur, 4.010 Lanjutkan Pengabdian

Ia mengaku harus bolak-balik dari rumah menuju saluran irigasi untuk mengambil air. Kondisi tersebut, menurutnya, telah berlangsung hampir sebulan sejak sumur Irpom difungsikan untuk pengairan sawah.

“Sumur di rumah kering, saya sampai jatuh tadi gara-gara air itu. Lagian ini kan musim kemarau, kok masih nanam padi saja. Sudah begitu, nyedot air segini banyak. Kita yang jadi susah,” paparnya.

Siti berharap pompa tersebut dihentikan atau penggunaannya tidak lagi mengganggu ketersediaan air bagi sumur warga.

“Maunya ya tidak pakai bor-boran, supaya air aman,” terangnya.

Keluhan serupa disampaikan Sutani (66), warga RT 6, RW 2, Dusun Guwo. Ia mengaku sumur di rumahnya juga mengalami kekeringan sehingga kebutuhan air sehari-hari harus dipenuhi dengan cara mengambil dari saluran irigasi.

Bahkan, suaminya disebut harus bolak-balik hingga tujuh kali untuk mengambil air yang digunakan untuk mandi dan mencuci.

“Sampai tadi malam suami saya masih harus cari air bolak-balik tujuh kali untuk kebutuhan mandi mencuci juga, karena sumur kering,” jelasnya.

Baca juga : HUT ke-81 TNI, Dandim Kediri: TNI Akan Selalu Hadir untuk Rakyat

Menurut Sutani, kesepakatan pembatasan jam operasional pompa yang sebelumnya pernah dilakukan belum mampu mengatasi persoalan tersebut. Sumur miliknya yang memiliki kedalaman lebih dari 15 meter masih belum bisa menyediakan air secara maksimal.

“Padahal kebutuhan air ini bukan cuma untuk rumah tangga saja, kan ya untuk masak, untuk jualan juga,” tambahnya.

Ia menyebut dampak kekeringan sumur tidak hanya dirasakan keluarganya. Warga di sejumlah RT yang lokasinya berdekatan dengan pompa juga mengalami kondisi serupa.

“Kalau yang terdampak yang di RT 5, 6, 7, yang terdekat sama pompa itu, semuanya merasakan,” pungkasnya.

Mewakili warga lainnya, Sutani berharap pemerintah segera turun tangan mencari solusi agar keberadaan sumur pompa untuk kebutuhan irigasi tidak berdampak terhadap ketersediaan air bersih masyarakat.

“Boleh saja dikasih pompa, tapi ya yang jauh, di tengah sawah saja sana, biar tidak mengganggu air kita,” tutupnya.***

Reporter: Taufiqur Rachman

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *