Jombang, LINGKARWILIS.COM – Lahan yang sebelumnya tidak produktif di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, kini berubah menjadi kawasan budidaya melon premium. Berkat inovasi Tri Mardi Walyono, lahan tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan greenhouse melon hidroponik yang mulai menunjukkan hasil setelah berjalan sekitar tiga bulan.
Usaha yang dikenal dengan nama Pondok Melon Gondangmanis ini menggunakan sistem hidroponik Deep Flow Technique (DFT), yakni metode budidaya dengan mengalirkan larutan nutrisi melalui talang yang memiliki genangan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
“Ini baru berjalan sekitar tiga bulan. Awalnya dari lahan yang tidak produktif, kemudian kami manfaatkan untuk greenhouse melon hidroponik,” ungkap Tri saat ditemui di kebunnya, Sabtu (10/10/2026).
Menurut Tri, terdapat beberapa metode hidroponik yang dapat diterapkan dalam budidaya melon, di antaranya sistem fertigasi tetes menggunakan media padat, Nutrient Film Technique (NFT), dan DFT yang memanfaatkan larutan nutrisi sebagai sumber kebutuhan tanaman.
Baca juga : Mengaku Pengacara, Oknum Wartawan di Jombang Diduga Tipu Warga Kabuh Rp97,5 Juta
Pada sistem DFT, talang ditempatkan secara mendatar. Larutan nutrisi dari bak penampungan dialirkan menuju talang, melewati area perakaran tanaman, kemudian kembali ke bak kontrol untuk disirkulasikan.
Sistem tersebut memiliki keunggulan berupa ketersediaan larutan nutrisi di dalam talang. Kondisi ini membuat tanaman relatif lebih aman ketika terjadi gangguan aliran listrik dalam waktu tertentu.
“Kalau DFT, ketika listrik mati satu sampai dua hari masih relatif aman karena masih ada air atau larutan nutrisi yang berada di dalam talang,” jelasnya.
Berbeda dengan sistem NFT yang mengalirkan larutan nutrisi dalam lapisan tipis melalui talang miring, DFT mempertahankan genangan larutan nutrisi di dalam talang datar. Seluruh kebutuhan nutrisi tanaman dikendalikan melalui bak preparasi sebelum dipompa menuju area perakaran.
Tri menambahkan, sistem tersebut juga memudahkan proses pemantauan tanaman. Pengelola cukup mengawasi aliran larutan nutrisi pada bagian masuk dan keluar, tanpa harus memeriksa setiap tanaman satu per satu seperti pada sistem fertigasi tetes.
Baca juga : Stok Pangan Kabupaten Kediri Oktober 2026 Dipastikan Memadai, Sejumlah Komoditas Surplus
“Nutrisinya kami kontrol, baik pH maupun PPM-nya. Semua masuk ke bak preparasi, kemudian disirkulasikan menggunakan pompa. Jadi kami cukup mengontrol bagian inlet dan outlet,” paparnya.
Salah satu varietas yang dibudidayakan di Pondok Melon Gondangmanis adalah melon premium jenis Lavender. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan buah, Tri menerapkan seleksi dengan mempertahankan satu buah pada setiap tanaman.
Metode tersebut dilakukan agar nutrisi yang tersedia lebih terfokus pada buah yang dipelihara. Tri menyebut tingkat keberhasilan tanaman dalam menghasilkan buah mencapai 100 persen.
“Setiap tanaman kami seleksi dan hanya diambil satu buah,” imbuhnya.
Saat ini, Pondok Melon Gondangmanis telah mengoperasikan dua greenhouse. Greenhouse pertama memiliki kapasitas sekitar 1.000 tanaman, sedangkan greenhouse kedua mampu menampung sekitar 1.200 tanaman.
Satu greenhouse tambahan juga sedang dibangun. Fasilitas ketiga tersebut diproyeksikan mampu menampung sekitar 2.800 tanaman dan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar dua minggu.
Dengan penambahan fasilitas itu, kapasitas produksi diharapkan meningkat. Tri memperkirakan produksi satu greenhouse dapat mencapai sekitar 2 ton melon, sementara total produksi dari tiga greenhouse ditargetkan menyentuh sekitar 10 ton dalam satu periode panen.
“Masa tanam hingga panen sekitar 65 hari. Bobot buah rata-rata berada di kisaran 2 kilogram per buah, meski sebelumnya ada buah yang mampu mencapai bobot 3 hingga 4 kilogram,” terang Tri.
Dari sisi pemasaran, produk melon Pondok Melon Gondangmanis mulai menarik minat konsumen. Sejumlah pembeli bahkan datang langsung ke lokasi untuk mendapatkan buah yang dibudidayakan secara hidroponik tersebut.
Konsumennya tidak hanya berasal dari Jombang, tetapi juga dari daerah lain, seperti Mojokerto, Blitar, hingga Surabaya. Menariknya, penjualan sejauh ini banyak mengandalkan pembelian langsung tanpa promosi besar-besaran melalui media sosial.
“Alhamdulillah, banyak pembeli yang langsung datang ke sini. Kami belum banyak melakukan promosi melalui media sosial,” tambahnya.
Harga jual melon ditentukan berdasarkan kualitas atau grade. Untuk Grade A, harga dipatok sekitar Rp19.000 per kilogram, Grade B Rp18.000 per kilogram, dan Grade C Rp15.000 per kilogram. Sementara itu, harga penjualan kiloan atau hantaran berkisar Rp18.000 hingga Rp19.000 per kilogram, bergantung pada varietas.
Tri menyebut harga pokok produksi (HPP) yang dihitung berada di kisaran Rp7.000 per tanaman untuk satu buah. Perhitungan biaya tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan usaha budidaya melon hidroponik yang dirintisnya.
Pondok Melon Gondangmanis pun terus dikembangkan melalui penambahan greenhouse untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.
Nama usaha tersebut dipilih dengan mengangkat identitas Desa Gondangmanis. Selain menjadi penanda lokasi, nama itu juga membawa pesan tentang cita rasa manis melon yang dihasilkan dari kawasan tersebut.
“Jadinya kita beri nama Melon di sini, manisnya asli Gondang Manis, jadi tagline hidroponik ini,” pungkasnya.***
Reporter: Taufiqur Rachman
Editor : Hadiyin