KEDIRI, LINGKARWILIS.COM β Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah memperkuat koordinasi untuk mempercepat investasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa.
Upaya tersebut dilakukan melalui Rapat Koordinasi Percepatan Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Wilayah Jawa Tahun 2026 yang berlangsung di Surabaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Jawa Road to Java Regional Economic Forum (JREF) 2026.
Forum tersebut diarahkan untuk mempercepat realisasi investasi sekaligus memperluas alternatif pembiayaan pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Rakor dipimpin Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ibrahim dan diikuti Departemen Regional BI, kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah se-Jawa, otoritas sektor keuangan, lembaga pembiayaan pembangunan serta perbankan.
Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan daerah, kesiapan proyek investasi dan berbagai alternatif sumber pembiayaan.
Perekonomian Jawa dinilai masih menunjukkan ketahanan di tengah tingginya ketidakpastian global. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa tumbuh 5,65 persen secara tahunan atau year on year (yoy), ditopang konsumsi rumah tangga, investasi dan belanja pemerintah.
Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian ekonomi Jawa pada 2025 yang berada di angka 5,30 persen. Sementara sepanjang 2026, pertumbuhan ekonomi Jawa diprakirakan tetap kuat pada kisaran 4,9-5,7 persen.
Momentum tersebut dinilai perlu dijaga melalui penguatan investasi sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi. Investasi memberikan kontribusi sekitar 29,68 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa.
Karena itu, kesinambungan proyek-proyek produktif terus didorong guna meningkatkan kapasitas ekonomi, memperkuat konektivitas, menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan daya saing daerah.
Di sisi lain, kebutuhan investasi yang terus meningkat menghadapi tantangan dari sisi kapasitas pembiayaan pembangunan daerah. Kondisi tersebut sejalan dengan dinamika ruang fiskal dan Transfer ke Daerah (TKD).
Untuk itu, diversifikasi sumber pembiayaan di luar APBD dinilai semakin penting. Salah satunya melalui skema creative financing, seperti pinjaman daerah, Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), obligasi dan sukuk daerah, optimalisasi barang milik daerah hingga blended finance.
Meski demikian, pemanfaatan skema pembiayaan kreatif harus tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, keberlanjutan fiskal, tata kelola yang baik serta kesiapan proyek.
Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Agus Fatoni menekankan, perluasan sumber pembiayaan pembangunan harus dibarengi dengan penguatan kapasitas fiskal dan tata kelola pemerintah daerah.
Menurutnya, kemampuan keuangan daerah, kesiapan regulasi dan aspek kelembagaan perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan skema pembiayaan.
Sementara itu, Asisten Deputi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Yuli Sri Wilanti menyampaikan bahwa percepatan pertumbuhan ekonomi daerah membutuhkan dukungan sumber pembiayaan infrastruktur yang lebih beragam dan inovatif.
Pemanfaatan pembiayaan kreatif diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan konektivitas serta membuka peluang lebih luas bagi dunia usaha untuk mengembangkan sektor unggulan dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Direktur Pembiayaan dan Perekonomian Daerah Kementerian Keuangan Adriyanto juga menekankan pentingnya optimalisasi instrumen pembiayaan daerah dengan tetap mempertimbangkan kapasitas fiskal dan keberlanjutan keuangan daerah.
Direktur Bappenas Novie Andriani menambahkan, berbagai skema pembiayaan kreatif sebenarnya telah tersedia dan memiliki dasar regulasi. Namun, penerapannya masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait kesiapan kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia di pemerintah daerah.
Untuk meningkatkan kesiapan tersebut, Bappenas turut mendorong penguatan kapasitas pemerintah daerah, termasuk melalui program peningkatan kemampuan di bidang KPBU.
Direktur Departemen Regional BI Tri Yanuarti menegaskan, Bank Indonesia akan terus memperkuat perannya sebagai strategic advisor bagi pemerintah daerah sekaligus menjadi katalisator sinergi kebijakan pusat dan daerah.
Peran tersebut dilakukan melalui penyediaan asesmen ekonomi dan keuangan daerah, pemetaan proyek investasi potensial, penguatan Regional Investor Relations Unit (RIRU), serta fasilitasi dialog antara pemerintah, investor, perbankan, otoritas sektor keuangan dan lembaga pembiayaan pembangunan.
Fasilitasi juga dilakukan melalui promosi berbagai proyek investasi potensial, baik di dalam maupun luar negeri.
Dalam rakor tersebut, pemerintah daerah se-Jawa turut memaparkan kebutuhan, tantangan serta pengalaman dalam mengembangkan alternatif pembiayaan pembangunan.
Pembahasan kemudian mengerucut pada sejumlah isu strategis, meliputi pilihan dan skema pembiayaan, dukungan regulasi dan kelembagaan, kapasitas fiskal daerah, prioritas dan kesiapan proyek investasi, serta penguatan koordinasi antarlembaga.
Dari pertemuan tersebut dirumuskan tiga arah penguatan utama. Pertama, meningkatkan kesamaan pemahaman mengenai potensi, tata kelola dan prinsip kehati-hatian dalam pemanfaatan pembiayaan kreatif.
Kedua, memperkuat identifikasi serta penyiapan proyek investasi daerah di Jawa agar semakin layak, siap ditawarkan dan memenuhi standar bankable bagi investor maupun lembaga pembiayaan.
Ketiga, memperkuat ekosistem implementasi pembiayaan kreatif, terutama dari sisi skema pembiayaan, regulasi, kelembagaan, kapasitas sumber daya manusia serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, otoritas sektor keuangan dan lembaga pembiayaan pembangunan.
Ke depan, sinergi tersebut akan terus diperkuat untuk mendorong berbagai potensi dan pipeline proyek investasi menjadi realisasi investasi yang konkret.
Dengan kesiapan proyek yang semakin matang dan dukungan sumber pembiayaan yang tepat, investasi diharapkan terus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing daerah serta memperkuat kontribusi ekonomi Jawa terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.***
Editor :Hadiyin





