LINGKARWILIS.COM – Awal tahun 2025, Indonesia dilanda bencana banjir di berbagai wilayah akibat intensitas hujan yang tinggi serta faktor pendukung lainnya seperti buruknya drainase dan alih fungsi lahan.
Hujan deras yang terjadi secara terus-menerus menyebabkan sungai meluap dan merendam permukiman warga, infrastruktur, serta area pertanian.
Sejumlah daerah seperti Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatra mengalami dampak paling parah dengan ribuan rumah terendam dan banyak warga terpaksa mengungsi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengatakan fenomena banjir ini terjadi tidak hanya karena curah hujan tetapi juga adanya masalah sistem lingkungan dan tata kelola ruang. Berikut ini beberapa wilayah yang terdampak banjir hingga menyebabkan korban jiwa.
Permintaan Melejit! Perajin Songkok Jombang Kebanjiran Pesanan di Bulan Ramadan
1. Jawa Tengah
Hingga 27 Januari 2025, Jawa Tengah mengalami 39 kejadian bencana alam akibat cuaca ekstrem. Bencana tersebut didominasi oleh banjir (29 kasus), tanah longsor (7 kasus), dan cuaca ekstrem (3 kasus), yang berdampak pada 15 kabupaten/kota. Akibatnya, 27 orang meninggal dunia, sebagian besar dari Kabupaten Pekalongan. BMKG memperkirakan curah hujan tinggi masih berlanjut hingga Februari 2025.
Kota Pekalongan menjadi salah satu daerah yang terdampak paling parah, dengan banjir melanda beberapa kecamatan akibat curah hujan tinggi dan luapan Sungai Bremi. Ratusan warga terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara. Sejumlah jalan utama di kota ini tergenang air dengan ketinggian 10-40 cm, menghambat mobilitas warga.
2. Bandar Lampung
Banjir besar terjadi di Kota Bandar Lampung pada 17 Januari 2025 setelah hujan deras selama dua jam. Ketinggian air mencapai dua meter, menenggelamkan rumah-rumah warga dan merusak fasilitas umum, termasuk robohnya jembatan gantung di kawasan wisata Sumur Putri.
Kemacetan parah terjadi di Jalan Lintas Sumatera akibat banyak kendaraan mogok. Beberapa kawasan terdampak parah, termasuk Kelurahan Way Lunik dan Kota Karang. Banjir juga menyebabkan korban jiwa, salah satunya Bakhtiar dari Kelurahan Kupang Teba yang hanyut dan belum ditemukan.
Normalisasi dan Perbaikan Tanggul Sungai di Pranggang, Kediri, Dipercepat Usai Banjir Bandang
3. Bojonegoro
Pada 7 Maret 2025, hujan lebat yang berlangsung selama tiga setengah jam menyebabkan Kali Pacal meluap dan membanjiri empat desa, yaitu Senganten, Pajeng, Gondang, dan Sambongrejo. Sebanyak 300 rumah terendam, 17 di antaranya mengalami kerusakan.
Bencana ini juga mengakibatkan dua jembatan di Desa Sambongrejo hanyut, satu rumah roboh, dan longsor di Jalan PUK Provinsi. Warga terdampak mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara BPBD berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menangani kerusakan infrastruktur.
4 Jakarta dan Bogor
Banjir akibat luapan Kali Bekasi melanda sekitar 20 titik di Kota Bekasi setelah menerima air kiriman dari Bogor pada pukul 07.00 WIB, dengan tinggi muka air mencapai 875 sentimeter. Dampak banjir turut dirasakan di sektor pendidikan, dengan 114 sekolah dari tingkat SD hingga SMA ikut terendam.
Setelah air surut, muncul permasalahan baru berupa tumpukan sampah di Cililitan Kecil, Jakarta Timur. Warga bersama petugas PPSU berupaya membersihkan lumpur dan sampah yang terus menumpuk.
Sementara itu, Menteri Pangan Zulkifli Hasan dan Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi menutup empat tempat wisata ilegal di Puncak, termasuk Hibisc Fantasy, yang melanggar izin penggunaan lahan.
5 Jombang
Hujan deras yang berlangsung dari sore hingga malam hari pada 22 Januari 2025 mengakibatkan banjir di beberapa desa di Kabupaten Jombang. Luapan Sungai Pancir Gunting dan Patak Banteng merendam permukiman di Dusun Kebondalem, Sawahan, Bandaran, dan Desa Betek.
Sebanyak 492 kepala keluarga terdampak di Desa Kademangan, dengan total 1.669 jiwa mengalami kesulitan beraktivitas. Tagana Jombang bersama BPBD, kepolisian, relawan, dan instansi terkait bergerak cepat dalam penanganan bencana.
Meski tidak ada korban jiwa, warga yang terdampak masih membutuhkan bantuan makanan setelah banjir surut. Tim dokumentasi Tagana terus memantau situasi guna mendukung langkah mitigasi di masa mendatang.
Banjir yang melanda Indonesia pada awal tahun ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan upaya mitigasi bencana.
Perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta kurangnya infrastruktur drainase yang memadai menjadi faktor utama yang memperparah kondisi ini.
Oleh karena itu, kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait sangat diperlukan untuk mengurangi dampak banjir di masa depan.
Dengan langkah-langkah preventif yang tepat, diharapkan kejadian serupa dapat diminimalisir dan tidak lagi menimbulkan kerugian yang besar bagi masyarakat.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya




