Kediri, LINGKARWILIS.COM – Kenaikan harga kedelai impor yang dipicu fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belum berdampak pada harga jual tahu kuning di Kabupaten Kediri. Para pelaku usaha memilih tetap mempertahankan harga demi menjaga loyalitas konsumen.
Salah satunya dilakukan Gatot Siswanto, pengusaha tahu sekaligus pemilik swalayan Gudange Tahu Takwa (GTT) di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem. Meski harga kedelai impor naik dari Rp10.500 menjadi Rp12.500 per kilogram, ia tetap menjalankan produksi seperti biasa tanpa mengurangi kapasitas maupun ukuran produk.
Setiap hari, Gatot membutuhkan sekitar tiga kuintal kedelai impor untuk memenuhi produksi tahu takwa. Menurutnya, permintaan pasar masih tinggi sehingga pihaknya optimistis usahanya tetap berkembang.
Baca juga : Libatkan Nelayan, Pencarian Santri Kediri yang Hilang di Pantai Pangi Masih Belum Membuahkan Hasil
“Kami tetap berproduksi normal dan tidak menaikkan harga jual. Untuk kemasan plastik berisi 10 potong tetap dijual Rp17 ribu, sedangkan kemasan besek besar isi 10 potong seharga Rp35 ribu. Permintaan di swalayan juga terus meningkat,” ujarnya.
Selain mempertahankan harga, Gatot memastikan jumlah produksi dan jam operasional karyawan tetap berjalan seperti biasanya, yakni enam hari kerja dalam sepekan.
Sebagai Kepala Desa Toyoresmi, Gatot juga mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai impor turut dirasakan oleh pengrajin tahu lainnya di Kabupaten Kediri. Meski demikian, para pelaku usaha tetap memilih bertahan karena kebutuhan masyarakat terhadap produk tahu sebagai bahan pangan sehari-hari masih cukup tinggi.
Menurutnya, menjaga kualitas dan ketersediaan produk menjadi prioritas agar kepercayaan pelanggan tetap terpelihara.
Baca juga : Warga Tak Perlu Panic Buying, Stok Beras Bulog Kediri 98.806 Ton Cukup hingga 14 Bulan
“Kami fokus meningkatkan produksi dan menjaga kepuasan pelanggan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, terutama wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Kediri. Upaya promosi juga terus kami lakukan agar tahu takwa semakin dikenal luas,” pungkasnya.***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





