Kediri, LINGKARWILIS.COM – Kota Kediri memiliki perjalanan sejarah panjang yang terekam dalam berbagai peninggalan, termasuk foto-foto lawas yang menggambarkan kehidupan masyarakat dan wajah kota pada masa lampau. Jejak sejarah tersebut dapat ditelusuri melalui Kediri’s Photograph Museum, tempat yang menyimpan dokumentasi visual Kota Kediri sejak era kolonial hingga perkembangan pada masa berikutnya.
Museum yang berada di rumah pribadi milik warga di Jalan Kapten Tendean, Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri, ini menyimpan ratusan foto dokumentasi Kediri dari rentang tahun 1850 hingga 1980. Koleksi tersebut dapat dinikmati masyarakat umum tanpa dipungut biaya.
Didirikan pada 2010, Kediri’s Photograph Museum memiliki sekitar 130 koleksi foto langka yang merekam berbagai sudut kota, bangunan bersejarah, serta jejak kehidupan Kediri pada masa lalu. Foto-foto tersebut menjadi jendela untuk melihat perubahan kota dari masa kolonial Belanda hingga perkembangannya saat ini.
Keberadaan museum ini menarik minat beragam kalangan, mulai dari warga lokal, pelajar, mahasiswa, hingga wisatawan mancanegara. Pengunjung datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari negara seperti Singapura, Prancis, dan Belanda. Jumlah kunjungan juga disebut meningkat pada musim liburan, termasuk Natal dan Tahun Baru.
Pendiri sekaligus pemilik museum, Imam Mubarok S.Sos.I atau yang akrab disapa Gus Barok, menjelaskan bahwa pendirian museum berangkat dari keinginannya untuk menghidupkan kembali narasi sejarah Kota Kediri.
Menurutnya, sebagai salah satu kota tua di Jawa Timur, Kediri memiliki banyak peninggalan arsitektur yang bernilai sejarah dan perlu dijaga keberadaannya.
“Melalui museum ini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa konservasi bangunan kuno bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga pemerintah, sesuai dengan Undang-Undang Cagar Budaya,” tegas Gus Barok.
Ia mengakui, merawat koleksi foto berusia puluhan hingga lebih dari satu abad bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan penanganan khusus dan biaya perawatan yang tidak sedikit. Meski demikian, ia berkomitmen mempertahankan museum sebagai ruang edukasi sejarah yang dapat diakses masyarakat secara gratis.
“Setiap foto memiliki cerita dan jiwa tersendiri. Melalui visual, masyarakat, khususnya generasi muda, bisa lebih mudah memahami perjalanan Kota Kediri hingga menjadi seperti sekarang,” ujar Gus Barok.
Baca juga : ISEF 2026 Usung Semangat Kebaikan untuk Semua, BI Kediri Bawa 7 UMKM Mataraman ke Jakarta
Kunjungan ke Kediri’s Photograph Museum bukan sekadar melihat foto-foto lama. Lebih dari itu, pengunjung dapat menelusuri warisan budaya, mengenal perubahan lingkungan perkotaan, serta memahami peran fotografi dalam merekam perjalanan sejarah lokal dari generasi ke generasi.***
Editor : Hadiyin
Response (1)