JAKARTA, LINGKARWILIS.COM – Pemerintah terus meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah haji Indonesia. Tahun ini, Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan delapan syarikah atau perusahaan layanan untuk menangani kebutuhan jemaah, khususnya pada masa puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Dilansir dari laman Kemenag, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief mengatakan, penggunaan banyak syarikah ditujukan agar layanan lebih fokus, mulai dari penyediaan tenda, konsumsi, transportasi, hingga akomodasi. Namun, skema baru ini juga menimbulkan tantangan, seperti pemisahan kloter suami-istri maupun jemaah lansia dan pendamping.
“Saudi saat ini menerapkan aturan yang lebih ketat untuk akses ke Makkah, termasuk kewajiban memiliki kartu Nusuk atau visa haji. Ini menjadi faktor teknis dalam penyusunan kloter,” ungkap Hilman saat diwawancarai pada Ahad, 18 Mei 2025.
Masalah Kloter Terpisah dan Solusi Reunifikasi
Beberapa jemaah yang terpisah dari pasangan atau mahramnya karena beda kloter atau syarikah telah menjadi perhatian serius Kemenag. Data ribuan jemaah yang mengalami pemisahan telah diajukan kepada otoritas Arab Saudi untuk proses reunifikasi.
“Kami terus menjalin komunikasi intensif dengan Kementerian Haji Arab Saudi. Alhamdulillah, mereka merespons positif dan telah membuka opsi penggabungan kembali bagi jemaah yang terpisah,” tambah Hilman.
Distribusi Kartu Nusuk dan Peran Petugas
Beberapa jemaah dilaporkan belum memperoleh kartu Nusuk, yang menjadi syarat masuk ke wilayah suci. Kemenag tengah mempercepat distribusi kartu tersebut bersama syarikah dan otoritas Saudi. Di sisi lain, sebagian petugas kloter dan tenaga medis juga mengalami pemisahan dari rombongannya karena perbedaan proses visa atau perusahaan penyedia layanan.
“Meski ada petugas kesehatan yang tidak bersama kloternya, kami pastikan layanan medis tetap berjalan. Petugas sektor dan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) disiagakan untuk menjangkau seluruh jemaah,” jelas Hilman.
Layanan Aduan Jemaah dan Platform Kawal Haji
Hilman juga mengimbau jemaah untuk segera melaporkan kendala yang mereka hadapi melalui hotline dan platform Kawal Haji yang tersedia baik di tanah air maupun di Arab Saudi.
“Semua laporan jemaah, baik terkait penginapan, transportasi, makanan, atau layanan ibadah, akan kami tindak lanjuti dengan cepat. Pastikan informasi yang disampaikan jelas, seperti lokasi, nomor kontak, dan nama hotel,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para jemaah yang tetap disiplin dan sabar di tengah tantangan teknis. Hilman berharap seluruh proses haji, khususnya saat puncak ibadah di Armuzna, dapat berjalan lancar dengan sinergi semua pihak.***
Editor :Hadiyin





