Kediri, Lingkarwilis.com β Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Kediri Raya hingga April 2026 menunjukkan tren yang positif. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp2,676 triliun atau tumbuh 28,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala KPPN Kediri, Moch. Izma Nur Choironi mengatakan, realisasi belanja negara juga mengalami peningkatan sebesar 5,9 persen menjadi Rp607,75 miliar.
Berdasarkan data yang dipaparkan, penerimaan negara masih ditopang oleh sektor perpajakan yang mencatatkan realisasi sebesar Rp2,638 triliun atau tumbuh 29,41 persen secara tahunan (year on year).
“Di sisi lain, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp35,88 miliar atau mengalami kontraksi 3,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Untuk wilayah kerja KPP Pratama Kediri yang meliputi Kota Kediri, penerimaan pajak hingga April 2026 mencapai Rp96,78 miliar atau 25,53 persen dari target tahun berjalan. Realisasi tersebut tumbuh 7,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi kendaraan bermotor, serta administrasi pemerintahan masih menjadi penyumbang utama penerimaan pajak di wilayah tersebut.
Sementara itu, KPP Pratama Pare yang membawahi Kabupaten Kediri dan Kabupaten Nganjuk membukukan penerimaan sebesar Rp263,59 miliar atau 24,16 persen dari target tahun 2026. Kinerja tersebut tumbuh cukup signifikan, yakni 22,05 persen secara tahunan. Sektor perdagangan besar dan eceran masih mendominasi kontribusi penerimaan, diikuti sektor administrasi pemerintahan dan jaminan sosial wajib.
Di wilayah kerja KPP Pratama Tulungagung yang mencakup Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek, penerimaan pajak hingga April 2026 tercatat sebesar Rp207,59 miliar atau 24,63 persen dari target tahun ini. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Tulungagung menyumbang Rp176,78 miliar, sedangkan Kabupaten Trenggalek sebesar Rp30,8 miliar. Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar penerimaan pajak di wilayah tersebut dengan kontribusi hampir 30 persen.
Di sektor kepabeanan dan cukai, KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri telah merealisasikan penerimaan sebesar 28,14 persen dari target tahun 2026. Penerimaan tersebut terdiri atas Bea Masuk sebesar Rp0,96 miliar dan Cukai sebesar Rp7,34 triliun. Namun demikian, kedua komponen tersebut mengalami tekanan akibat melemahnya daya beli masyarakat yang berdampak pada konsumsi barang kena cukai, khususnya hasil tembakau.
Dari sisi belanja negara, realisasi APBN Kediri Raya hingga April 2026 mencapai Rp607,75 miliar atau sekitar 8,2 persen dari total pagu. Belanja pegawai menjadi komponen terbesar dengan realisasi Rp99,26 miliar, disusul belanja barang sebesar Rp50,26 miliar dan belanja modal sebesar Rp2,61 miliar. Sementara itu, belanja bantuan sosial belum terealisasi pada periode tersebut.
Penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 5,73 persen. Dana Alokasi Umum (DAU) telah tersalurkan sebesar Rp305,99 miliar, Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp46,12 miliar, Dana Alokasi Khusus Nonfisik sebesar Rp66,36 miliar, serta Dana Desa sebesar Rp37,15 miliar.
Selain itu, program pembiayaan untuk masyarakat melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan Ultra Mikro (UMi) juga masih menunjukkan perkembangan yang baik. Hingga April 2026, total penyaluran kredit program mencapai Rp1,97 triliun kepada 43.455 debitur. Nilai tersebut tumbuh 18,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Editor: Ahmad Bayu