LINGKARWILIS.COM – Setiap tahun, sehari sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu di Bali menggelar pawai Ogoh-Ogoh sebagai bagian dari upacara Tawur Kesanga.
Pada tahun 2025, perayaan ini akan berlangsung pada 28 Maret tepat sehari sebelum Nyepi pada 29 Maret. Ogoh-Ogoh merupakan patung raksasa yang menggambarkan kekuatan negatif atau Bhuta Kala yang kemudian diarak keliling desa sebelum akhirnya dibakar atau dimusnahkan.
Tradisi arak ogoh-ogoh melambangkan pembersihan alam dan diri dari energi buruk, sehingga masyarakat dapat menyambut tahun baru Saka dengan kesucian dan kedamaian.
Tidak hanya masayarakat Hindu di Bali saja yang melakukan pawai ogok-ogok tetapi masyarakat seluruh Indonesia yang terdapat umat Hindu di dalamnya. Tapi apa sih ogoh-ogoh itu sendiri?
Daftar 10 Drakor Terbaru yang Tayang di Bulan November 2024, Yuk Simak!
Apa Itu Ogoh-ogoh?
Ogoh-ogoh adalah patung raksasa khas Bali yang umumnya berbentuk Bhuta Kala, makhluk mitologis, atau tokoh jahat. Tradisi ini dikaitkan dengan perayaan Nyepi, khususnya dalam upacara Pangrupukan yang digelar sehari sebelumnya.
Awalnya, ogoh-ogoh tidak terkait langsung dengan Nyepi, melainkan bagian dari kreativitas masyarakat dalam upacara adat sejak 1980-an. Popularitasnya meningkat setelah Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional pada 1983.
Dahulu, ogoh-ogoh dibuat dari bambu dan kertas, tetapi kini lebih sering menggunakan styrofoam karena ringan dan mudah dibentuk. Beberapa patung bahkan dilengkapi mesin penggerak untuk tampilan lebih hidup.
Proses pembuatannya bisa memakan waktu dari beberapa hari hingga berminggu-minggu, tergantung pada ukuran dan kompleksitas desain. Ogoh-ogoh diarak keliling desa atau kota sebelum akhirnya dimusnahkan sebagai simbol pembersihan dari energi negatif.
Makna Mendalam Ogoh-ogoh
Ogoh-ogoh melambangkan sifat buruk dan energi negatif dalam diri manusia yang harus dilenyapkan. Oleh karena itu, patung raksasa ini dibuat menyerupai makhluk menyeramkan sebagai perwujudan Bhuta Kala atau roh jahat. Prosesi pembakaran ogoh-ogoh dalam upacara Pangrupukan bertujuan untuk menghalau unsur negatif agar dunia menjadi lebih bersih dan seimbang.
Selain memiliki makna filosofis, pembuatan ogoh-ogoh juga menjadi ajang kreativitas bagi pemuda di setiap banjar. Melalui organisasi Sekaa Teruna Teruni, mereka berkompetisi menciptakan desain ogoh-ogoh terbaik, terutama karena pemerintah sering mengadakan perlombaan terkait kreativitas ini.
Saat arak-arakan, ogoh-ogoh diusung mengelilingi desa dan diputar tiga kali di setiap perempatan untuk membingungkan roh jahat agar pergi. Demi ketertiban, pemerintah Bali telah mengatur rute pawai, titik keramaian, serta memberikan imbauan untuk menjaga keamanan, seperti larangan penggunaan pengeras suara dan konsumsi alkohol.
Kenapa Ogoh-Ogoh Dibakar?
Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang menjadi bagian dari upacara Pangrupukan, sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Patung ini umumnya dibuat menyerupai Bhuta Kala atau makhluk menyeramkan sebagai simbol sifat buruk manusia yang harus dimusnahkan.
Prosesi ogoh-ogoh dimulai dengan pengarakan keliling desa, diiringi gamelan beleganjur dan obor, sebelum akhirnya dibakar di sema (kuburan) sebagai simbol pembersihan diri dan pemurnian alam semesta.
Pembuatan ogoh-ogoh melibatkan kreativitas tinggi, terutama oleh generasi muda dari Sekaa Teruna Teruni di setiap banjar. Pemerintah daerah bahkan sering mengadakan lomba desain ogoh-ogoh untuk meningkatkan antusiasme.
Dalam arak-arakan, ogoh-ogoh diputar tiga kali di setiap persimpangan untuk membuat roh jahat kebingungan dan pergi dari lingkungan manusia.
Pembakaran ogoh-ogoh memiliki makna spiritual mendalam, yaitu melenyapkan pengaruh negatif dan membersihkan jiwa sebelum menjalani Nyepi dalam keadaan suci lahir dan batin.
Selain sebagai simbol pembersihan, ritual ini juga menjadi bahan refleksi bagi masyarakat untuk meninggalkan niat buruk dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Meskipun proses pembuatannya memakan waktu lama, pembakaran tetap dilakukan sebagai bentuk ketulusan dalam melepaskan sifat negatif demi keseimbangan alam dan kehidupan yang lebih harmonis.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya





