BLITAR, LINGKARWILIS.COM – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diluncurkan sebagai bagian dari kebijakan kesehatan nasional belum sepenuhnya diminati warga Kota Blitar. Hingga pertengahan Mei 2025, jumlah peserta yang memanfaatkan layanan ini baru mencapai sekitar 1.500 orang, jauh dari target yang ditetapkan Dinas Kesehatan.
Program CKG yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut menyasar 30 persen penduduk Kota Blitar atau sekitar 54 ribu warga yang tersebar di 21 kelurahan. Namun realisasi di lapangan masih sangat rendah.
“Kami akui capaian saat ini masih belum sesuai harapan. Salah satu tantangannya adalah rasa takut masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya,” ujar Dissie Laksmonowati Arlini, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Blitar, Kamis (22/5/2025).
Baca juga : Wabup Dewi Ulfa Tinjau Lokasi Bencana Longsor dan Banjir di Mojo, Kediri
Menurut Dissie, sebagian warga enggan menjalani pemeriksaan kesehatan karena takut jika ternyata mereka mengidap penyakit tertentu. Padahal, justru dengan pemeriksaan dini, potensi penyakit bisa ditangani lebih cepat dan efektif.
“Melalui deteksi dini, risiko penyakit serius bisa ditekan. Misalnya, jika kadar gula darah mulai meningkat, pasien bisa segera mengubah pola makan agar tidak berkembang menjadi diabetes berat,” jelasnya.
Ia menambahkan, penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan stroke merupakan kasus yang paling sering ditemukan. Tanpa pemeriksaan berkala, penyakit-penyakit ini berisiko berkembang tanpa disadari.
Baca juga : SK CPNS dan PPPK Kabupaten Kediri Siap Diserahkan, Total 768 Formasi Lolos
Dinkes Kota Blitar pun berupaya meningkatkan partisipasi masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi di berbagai titik. Petugas puskesmas dan kader posyandu dilibatkan untuk menyebarkan informasi mengenai manfaat CKG, sekaligus memberikan panduan teknis tentang proses pendaftaran, termasuk melalui sistem daring.
“Program ini mencakup semua kelompok usia. Balita difokuskan pada tumbuh kembang, imunisasi, dan anemia. Remaja difokuskan pada kesehatan reproduksi, sementara kelompok dewasa pada faktor risiko penyakit tidak menular,” tambah Dissie.
Dengan pendekatan langsung ke masyarakat, pihaknya berharap angka partisipasi akan terus meningkat menjelang akhir tahun.***
Reporter : Aziz Wahyudi
Editor : Hadiyin






