Napak Tilas Muassis NU, Dzurriyah Telusuri Rute Sejarah Bangkalan–Tebuireng

Napak Tilas Muassis NU, Dzurriyah Telusuri Rute Sejarah Bangkalan–Tebuireng
Ilustrasi

JOMBANG — Sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama kembali dihidupkan melalui kegiatan Napak Tilas yang digagas para dzurriyah atau keturunan pendiri NU. Agenda ini digelar dalam rangka memperingati hari lahir jam’iyyah NU secara hijriyah, bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H, dan dijadwalkan berlangsung pada Minggu (4/1).

Napak Tilas tersebut dikemas sebagai perjalanan reflektif menyusuri jalur perjuangan para muassis NU. Rombongan akan memulai perjalanan dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Demangan, Bangkalan, Madura, dan berakhir di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Dalam pelaksanaannya, peserta menggunakan beragam moda transportasi, mulai dari kapal penyeberangan Selat Madura hingga kereta api. Di sejumlah titik tertentu, perjalanan juga dilanjutkan dengan berjalan kaki sebagai simbol menapaki jejak langkah para pendiri NU.

Baca juga : Porprov Jatim IX 2025 Catatkan Prestasi Tertinggi Olahraga Kota Kediri dalam Satu Dekade

Kegiatan ini diinisiasi oleh para dzurriyah muassis NU, di antaranya cicit Syaikhona Kholil, KH Ali Kholil, yang juga menjabat Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Timur, bersama dzurriyah lainnya dari Bangkalan, Tebuireng, dan Situbondo. Napak Tilas diharapkan menjadi sarana pengingat kolektif atas perjuangan pendiri NU sekaligus memperkuat khidmah jam’iyyah bagi umat dan bangsa.

Prosesi inti Napak Tilas ditandai dengan penyerahan simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih. Simbol tersebut diserahkan oleh perwakilan cicit Syaikhona Kholil, KH Fachruyddin Aschol, kepada KH Azaim Ibrohimi, cucu Kiai As’ad Samsul Arifin sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Selanjutnya, tongkat dan tasbih tersebut akan dibawa menuju Tebuireng untuk diserahkan kepada KH Fahmi Amrullah Hadziq atau Gus Fahmi, cucu Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.

Rombongan Napak Tilas dijadwalkan berangkat dari Bangkalan pukul 06.00 WIB dan diperkirakan tiba di Tebuireng sekitar pukul 21.00 WIB. Dari Demangan, peserta menuju Pelabuhan Kamal untuk menyeberang ke Pelabuhan Ujung, Surabaya, kemudian melanjutkan ziarah ke Makam Sunan Ampel. Setelah itu, perjalanan diteruskan dengan kereta api dari Stasiun Gubeng menuju Stasiun Jombang.

Baca juga : ASIKK Perkuat Pembinaan UMKM Kediri, 54 Anggota Dibina Menuju Pasar Nasional dan Internasional

Setibanya di Jombang, warga NU setempat turut dilibatkan untuk menyemarakkan kegiatan. Peserta lokal dijadwalkan berkumpul di Alun-alun Jombang pada Minggu (4/1) pukul 17.00 WIB, sebelum melanjutkan Napak Tilas dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih enam kilometer menuju Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek.

Wakil Ketua PCNU Jombang sekaligus Koordinator Napak Tilas wilayah Jombang, KH Haris Munawir atau Gus Haris, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan agenda resmi PBNU, PWNU, maupun PCNU. Meski demikian, PCNU Jombang tetap berperan dalam mendukung aspek teknis penyambutan peserta.

“PCNU Jombang bertugas menyambut peserta yang terdaftar secara resmi, sekitar seribu orang. Mereka dijadwalkan tiba di Jombang sekitar pukul 19.15 WIB dan transit di Pendopo Kabupaten Jombang sebelum diberangkatkan bersama menuju Tebuireng,” ujar Gus Haris, Jumat (2/1).

Ia menambahkan, kesiapan teknis di wilayah Jombang telah mencapai hampir 100 persen. Panitia telah menyiapkan konsumsi, ribuan botol air minum, serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk pengamanan dan layanan kesehatan.

Baca juga : DPRD Kabupaten Kediri Dorong UMKM Lebih Kompetitif pada 2026, Manfaatkan Event dan Bandara Dhoho

“Pos kesehatan dan ambulans juga disiagakan di beberapa titik sepanjang rute perjalanan,” katanya.

Terkait pengaturan lalu lintas, panitia memastikan kegiatan tidak akan menutup jalan secara total.
“Penggunaan badan jalan hanya sebagian, dengan pengamanan dari Banser agar aktivitas masyarakat tetap berjalan normal,” imbuhnya.

Peserta resmi Napak Tilas tercatat sekitar seribu orang dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan Timur. Selain itu, ribuan peserta nonterdaftar diperkirakan akan bergabung di sepanjang rute.

“Melalui Napak Tilas ini, kami berharap warga NU semakin memahami perjuangan para muassis dalam mendirikan NU dan menumbuhkan semangat persatuan serta khidmah,” pungkas Gus Haris.***

Reporter : Agung Pamungkas

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *