KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Peringatan Hari Ulang Tahun ke-890 Desa Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri yang berlangsung dengan semangat pelestarian budaya diselenggarakan pada Selasa (22/7/2025)
Ribuan warga antusias mengikuti prosesi Bersih Desa dan Kirab Budaya yang dimulai dari Balai Desa menuju makam Prabu Anom, tokoh leluhur yang dipercaya sebagai cikal bakal Desa Doko.
Warga dari berbagai usia turut serta dalam kirab sambil mengenakan busana adat Jawa keprabon. Mereka membawa aneka hasil bumi dan menempuh perjalanan lebih dari satu kilometer dalam barisan yang dipenuhi unsur seni budaya. Kehadiran tokoh adat, kepala dusun, hingga perangkat desa menambah kekhidmatan suasana.
Kepala Desa Doko, Diah Widarni, SE., S.Pd., menyampaikan bahwa kirab ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi sarat makna spiritual dan nilai budaya yang harus diwariskan kepada generasi penerus.
“Kirab ini menjadi bentuk syukur dan penghormatan terhadap leluhur. Makam Prabu Anom kami jadikan simbol sejarah, identitas, dan kekuatan nilai gotong royong masyarakat,” terangnya.
Baca juga : Pererat Hubungan Ulama dan Aparat, Kapolres Kediri Kota Kunjungi Ponpes Wali Barokah
Camat Ngasem, Edi Subiyakto, SE., M.MP., turut memberikan apresiasi atas kekompakan masyarakat Doko dalam menjaga kearifan lokal.
“Kirab budaya ini bukan hanya tradisi, tetapi juga menjadi ruang edukasi sejarah dan kekuatan identitas warga. Usia 890 tahun menunjukkan daya tahan budaya yang tetap hidup di tengah perubahan zaman,” katanya.
Sementara itu, Hariono salah satu tokoh masyarakat mengenang momen Bersih Desa yang selalu ia ikuti sejak masa kecil.
“Setiap langkah menuju makam Prabu Anom adalah bentuk penghormatan dan perwujudan rasa cinta kami kepada leluhur. Tradisi ini adalah bagian dari jati diri warga Doko,” ungkapnya.
Baca juga : Pererat Hubungan Ulama dan Aparat, Kapolres Kediri Kota Kunjungi Ponpes Wali Barokah
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama di makam Prabu Anom, kemudian dilanjutkan dengan pagelaran kesenian rakyat dan kenduri sebagai wujud kebersamaan. Peringatan ini tidak hanya menjadi momentum sejarah, tetapi juga cerminan harmoni budaya yang tetap terjaga di tengah tantangan modernisasi.***
Reporter : Agus Sulistyo Budi
Editor : Hadiyin
