KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Harga cabai di Kabupaten Kediri mengalami penurunan tajam usai perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Jika sebelumnya sempat menyentuh kisaran Rp 80.000 per kilogram, kini harga cabai rawit di tingkat petani merosot hingga Rp 27.000 per kilogram.
Meski terjadi penurunan signifikan, para petani tetap optimistis pasokan cabai ke pasar akan terus terjaga. Tingginya permintaan dinilai masih mampu menyerap hasil panen petani di wilayah setempat.
Salah satu petani cabai di Kecamatan Ringinrejo, Karsono (46), mengakui fluktuasi harga cabai merupakan hal yang lumrah terjadi. Saat ini ia tengah memasuki masa panen akhir, yang bertepatan dengan turunnya harga di pasaran.
“Naik turunnya harga cabai sudah biasa. Sekarang memang sedang panen akhir dan harganya turun. Saya tetap panen dan menjual sendiri tanpa melalui pengepul,” ujarnya.
Baca juga : DLHKP Kota Kediri Lakukan Pemangkasan Pohon Besar di Jalan Mauni demi Keselamatan Warga
Karsono menyebut kondisi tanaman cabainya relatif baik dan produktif. Ia pun berencana kembali menanam cabai pada akhir Januari 2026 dengan harapan harga kembali meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Kalau tanam akhir Januari, panennya bisa mendekati Lebaran. Biasanya saat itu harga naik dan permintaan juga tinggi, seperti saat Nataru kemarin,” jelasnya.
Di tengah cuaca ekstrem, tanaman cabai miliknya nyaris tidak terserang penyakit. Dalam sepekan, ia bisa melakukan panen dua kali dengan hasil sekitar 70 kilogram setiap kali petik.
Usai dipanen, cabai langsung dibawa ke pasar agar tetap segar dan cepat terjual. Menurutnya, meski harga turun, yang terpenting hasil panen tetap terserap pasar.
Baca juga : Persik Kediri Tahan Persib, Marcos Torres Apresiasi Peran Muhammad Firli
“Fluktuasi harga itu wajar. Selama permintaan masih ada dan barang bisa terjual, petani tetap bersyukur,” pungkasnya.***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





