LINGKARWILIS.COM – Aksi pengeroyokan orang tidak dikenal di Kediri kembali memakan korban jiwa, menambah daftar panjang kasus kekerasan yang meresahkan masyarakat.
Insiden tragis ini. baru saja terjadi pada Senin (24/3) hingga menewaskan seorang pemuda akibat pengeroyokan yang oleh dilakukan sekelompok orang tidak dikenal
Dari kejadian ini menyoroti lemahnya pengawasan terhadap kasus kriminalitas di daerah tersebut serta menimbulkan ketakutan di kalangan penduduk.
Aksi pengeroyokan itu dialami 3 pemuda di Kabupaten, mengakibatkan satu remaja tewas dan dua lainnya luka-luka. Korban meninggal adalah Rayyan (17), yang sempat koma sebelum akhirnya wafat pada Selasa (25/3) pukul 03.00 WIB. Sementara itu, dua korban lainnya, Zaki (17) dan Hendra Reza (18) masih menjalani perawatan akibat luka serius.
Orang Tua Korban Pengeroyokan Pesilat di Jombang Pilih Jalur Hukum, Tuntut Keadilan
Kronologi PengeroyokanΒ
Kejadian bermula saat enam pemuda, termasuk korban, pergi ke Simpang Lima Gumul (SLG) untuk makan sahur. Dalam perjalanan pulang, mereka dihadang oleh sekelompok pemuda bersenjata tajam dan balok kayu di dekat SMKN 1 Ngasem. Tanpa alasan jelas, gerombolan tersebut mengejar dan menyerang korban.
Zaki, Hendra, dan Rayyan yang terpisah dari rombongan sempat berhenti di wilayah Sumberejo untuk menunggu teman mereka. Namun, gerombolan pelaku datang kembali dan mengejar mereka. Sepeda motor yang dikendarai Hendra ditendang hingga terjatuh, membuat ketiganya terguling di jalan.
Zaki berhasil bersembunyi di persawahan selama 10 menit sebelum akhirnya kembali ke lokasi dan menemukan Rayyan sudah tak berdaya di selokan.
Para korban segera dilarikan ke rumah sakit. Zaki mengalami patah tangan dan luka di kepala serta tubuhnya, sementara Hendra mengalami luka di kaki dan pinggul. Polisi kini sedang menyelidiki kasus ini dan memburu para pelaku.
Perisitiwa pengeroyokan di Kediri, Jawa Timur tidak hanya terjadi satu kali saja. Sebelumnya juga ada aksi premanisme di jalan yang juga sempat mengkhatirkan masyarakat.
1 Karyawan Bengkel CatΒ
Seorang karyawan swasta bernama Wahyu (24) menjadi korban pengeroyokan di Desa Ponggok, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Insiden ini terjadi sekitar 200 meter ke timur Balai Desa Ponggok pada tengah malam.
Sebelum kejadian, Wahyu bersama tiga temannya sempat makan di warung ayam pedesan. Saat melintas di lokasi kejadian, ia tiba-tiba dikejar dan dikeroyok oleh tujuh orang tak dikenal. Akibatnya, Wahyu mengalami luka serius, termasuk tangan yang diduga retak, kedua mata memar, kepala benjol, serta jari tangan sobek akibat gigitan salah satu pelaku.
Merasa dirugikan, Wahyu didampingi tiga lembaga melaporkan kejadian ini ke Polres Kediri Kota. Menindaklanjuti laporan tersebut, Satuan Reserse Kriminal Polres Kediri Kota segera membawa korban untuk menjalani visum di RS Bhayangkara Kediri dan berencana memeriksa saksi-saksi guna penyelidikan lebih lanjut.
Ketua Rekan Indonesia Jawa Timur, Bagus Romadon, mendesak pihak kepolisian agar segera menangkap para pelaku. Hal senada disampaikan Gus Imam dari LSM PPI, yang menyayangkan insiden ini terjadi di bulan Ramadan dan berharap aksi premanisme serupa tidak terulang. S
Sementara itu, Arif Fatikunnada dari GPM Swahira meminta aparat penegak hukum segera mengamankan dua warga Ponggok yang telah mengakui keterlibatan dalam pengeroyokan.
2 Pemuda Semen Dikeroyok
Polisi menangkap tiga pelaku pengeroyokan terhadap dua pelajar di Kediri. Salah satu korban mengalami luka serius di kepala dan harus dirawat di RS Bhayangkara akibat pendarahan otak.
Insiden terjadi saat korban MS dan KK, keduanya berusia 15 tahun, pulang usai mencari makan di sekitar Terminal Tamanan. Mereka dihentikan sekelompok pemuda di Kecamatan Semen dan langsung dipukuli tanpa alasan jelas. MS sempat melarikan diri, tetapi tetap dikejar dan dianiaya hingga terluka parah.
Polisi yang menyelidiki kasus ini menangkap DF (di bawah umur), serta WN (20) dan WH (20). Ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara tiga orang lainnya masih diperiksa sebagai saksi. Polisi menegaskan akan menindak tegas aksi premanisme untuk menjaga keamanan warga.
3. Tahun Baru Berujung Jadi Korban
Beberapa pemuda Desa Nambakan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri menjadi korban pengeroyokan setelah merayakan Tahun Baru 2025. Insiden terjadi di Jalan Jayakatwang, Ngasem, saat mereka dalam perjalanan pulang usai berkumpul di Desa Gogorante. Tanpa alasan jelas, mereka diserang oleh gerombolan tak dikenal, menyebabkan mereka mengalami luka-luka.
Salah satu korban, Hermawan (26), mengungkapkan bahwa mereka sempat dikejar sebelum akhirnya dikeroyok di dekat bengkel mobil. Merasa tidak terima, mereka melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Ngasem pada 1 Januari 2025 malam. Namun, laporan mereka belum mendapatkan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL), yang seharusnya menjadi hak pelapor.
Kasus-kasus pengeroyokan yang terjadi di Kediri mencerminkan masih maraknya aksi kekerasan jalanan yang mengancam keselamatan masyarakat. Dari insiden tragis yang menewaskan seorang remaja hingga serangan brutal terhadap pemuda dan pelajar, peristiwa ini menunjukkan perlunya tindakan tegas dari aparat penegak hukum.
Polisi diharapkan dapat bertindak cepat dalam menangani laporan, mengusut tuntas para pelaku, dan memastikan korban mendapatkan keadilan. Selain itu, upaya pencegahan seperti peningkatan patroli keamanan, pembinaan remaja, serta kesadaran masyarakat untuk lebih waspada juga menjadi langkah penting guna menghindari kejadian serupa di masa depan.
Semoga kasus-kasus ini menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban bersama demi menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya