LINGKARWILIS.COM – Musim tanam kali ini menjadi tantangan tersendiri bagi para petani tomat di Kota Batu, cuaca yang tidak menentu membuat sebagian besar tanaman mengalami kerusakan sebelum sempat dipanen.
Namun di tengah kondisi tersebut, kabar baik datang dari sisi harga tomat melonjak drastis hingga mencapai Rp23 ribu per kilogram di tingkat petani.
Rudi, petani tomat asal Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo menjadi salah satu dari sekian banyak petani yang masih bisa merasa lega meski hasil panennya tak optimal.
“Tanamannya banyak yang rusak karena cuaca tak menentu. Tapi kami tetap bersyukur, harga tomat sekarang tinggi. Jadi tetap ada untungnya,” ujarnya, Rabu (09/07).
Perkuat Layanan Kesehatan, Wali Kota Batu Aktifkan Polindes dan Rekrut Tenaga Medis Baru
Harga tomat yang biasanya berkisar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram, dalam beberapa hari terakhir mengalami kenaikan tajam.
Menurut Rudi, lonjakan tersebut dipicu oleh penurunan pasokan akibat cuaca ekstrem yang membuat banyak petani gagal panen.
“Kalau pasokan turun, otomatis harga naik. Ya, hukum pasar biasa lah,” tambahnya.
Meski begitu, tingginya harga tidak serta-merta membuat semua petani meraup untung. Cuaca yang tak menentu juga berdampak pada biaya perawatan yang ikut melonjak.
Misteri Mayat Perempuan di Sungai Brantas Tulungagung, Polisi Selidiki Identitas Korban
“Cuaca tak menentu rawan penyakit. Kami harus lebih sering semprot pupuk daun dan insektisida. Kalau biasanya cukup seminggu sekali, ini bisa sampai tiga kali. Kalau telat semprot, daunnya kuning terus busuk,” jelasnya.
Hujan yang masih sering turun juga menyulitkan proses panen, kondisi lahan menjadi becek dan berisiko merusak buah. Jika tomat jatuh dan pecah, harganya bisa turun drastis atau bahkan tidak laku di pasaran.
Dengan harga jual yang saat ini mencapai Rp23 ribu per kilogram, petani seperti Rudi mengaku masih bisa menutup biaya produksi dan meraih sedikit keuntungan. Namun kondisi musim tanam kali ini jauh dari ideal.
Beberapa petani mengaku mulai mempertimbangkan kembali untuk menanam tomat di musim berikutnya, jika pola cuaca ekstrem terus berulang.
Meski penuh tantangan, semangat petani tidak surut. Dalam kondisi ladang yang becek dan ancaman gagal panen, mereka tetap menjaga sisa tanaman yang ada, berharap musim berikutnya akan lebih bersahabat.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya






