Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Dalam dua bulan terakhir, Kabupaten Ponorogo mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah kasus kebakaran.
Berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Ponorogo, sedikitnya 12 peristiwa kebakaran telah ditangani selama bulan Juni hingga Juli.
Kabid Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Ponorogo, Bambang Supeno, mengungkapkan bahwa terjadi kenaikan dua kali lipat dalam jumlah kasus antara bulan Juni dan Juli. Pada bulan Juni, tercatat ada empat kasus kebakaran, sedangkan pada bulan Juli angka tersebut meningkat menjadi delapan kasus.
Baca juga :Β Ratusan Pelajar SMA di Kabupaten Kediri yang Sudah Berusia 17 Tahun Bareng-bareng Ikuti Perekaman Data KTP – El
“Di bulan Agustus ini, sudah ada dua kejadian, yaitu kebakaran rumpun bambu di Kelurahan Ronowijayan dan kebakaran di dapur milik pondok Gontor,” kata Bambang kepada wartawan, Senin (5/8/2024).
Bambang menjelaskan bahwa mayoritas kebakaran yang terjadi melibatkan rumpun bambu. Dari delapan kasus kebakaran pada bulan Juli, lima di antaranya melibatkan rumpun bambu. Sementara sisanya disebabkan oleh kebocoran gas dan kebakaran kandang.
“Saat ini kita sedang berada di musim kemarau, sehingga bambu sangat mudah terbakar,” tegasnya.
Baca juga :Β DPRD Kabupaten Kediri Setujui Raperda Perubahan APBD 2024 Tepat Waktu, Ini Infonya
Selain itu, Bambang menambahkan bahwa sebagian besar kebakaran disebabkan oleh kelalaian manusia atau human error. Warga yang membuka lahan dengan cara membakar seringkali meninggalkan api tanpa pengawasan, yang kemudian merembet dan menyebabkan kebakaran lebih besar.
“Biasanya warga membakar lahan tapi tidak diawasi, sehingga api membesar, terutama di musim kemarau ini ketika banyak bahan yang mudah terbakar,” jelas Bambang.
Sebagai langkah pencegahan, Bambang menghimbau masyarakat untuk menghindari tindakan yang dapat memicu kebakaran.
Jika memang diperlukan untuk membuka lahan dengan cara dibakar, Bambang mengingatkan agar proses tersebut diawasi dan dilokalisir dengan baik agar tidak merembet dan membahayakan pemukiman warga.
“Ini sangat berisiko. Kami meminta agar setidaknya dilokalisir dan jangan ditinggal. Musim kemarau ini angin kencang dan sulit diprediksi,” tandas Bambang.***
Reporter : Sony Dwi P
Editor : Hadiyin





