Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Keprihatinan terhadap limbah kayu yang hanya berakhir sebagai bahan bakar mendorong Heri Ismakut, warga Desa Mojomati, Kecamatan Jetis, Ponorogo, untuk mengubahnya menjadi kerajinan bernilai seni tinggi.
Bermodal keahlian dalam seni ukir, pria berusia 45 tahun ini menyulap kayu bekas menjadi barang antik yang diminati banyak kolektor. Dengan teknik ukir tradisional serta pewarnaan khas era tempo dulu, hasil karyanya semakin memiliki daya tarik tersendiri di kalangan pecinta seni.
“Kayu apa saja bisa digunakan, asalkan mudah diukir,” ujar Heri kepada wartawan.
Baca juga : Angka Kesembuhan Sapi dari PMK di Kabupaten Kediri Capai 759 Ekor
Di rumah sederhananya, Heri mengolah limbah kayu dari sisa pembongkaran rumah hingga potongan meubel yang tidak terpakai. Berkat kreativitasnya, material yang sebelumnya dianggap tak bernilai itu ia ubah menjadi ornamen bernuansa Jawa, seperti Blawong—papan tempat menyimpan keris—dan Blencong, lampu minyak yang dahulu digunakan dalam pertunjukan wayang kulit.
“Karena di sini banyak meubel dan limbah kayu yang terbuang, saya coba membuat Blawong dengan pewarnaan jadul. Ternyata hasilnya bagus dan laku di pasaran,” ungkapnya.
Setiap karya ukiran Heri membutuhkan ketelitian tinggi, terutama dalam proses pewarnaan dan detail ukiran. Waktu pengerjaannya bisa mencapai satu minggu untuk satu produk, tergantung pada tingkat kerumitan desain. Harga setiap kerajinan dibanderol mulai dari Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan ukiran.
Baca juga : Persik Kediri Kembali Terpuruk, Dibantai Persib Bandung 4-1
“Alhamdulillah banyak yang suka, biasanya mereka membeli untuk dijadikan ornamen atau dekorasi rumah,” jelasnya.
Tak hanya diminati oleh masyarakat lokal, kerajinan kayu buatan Heri juga berhasil menembus pasar nasional, termasuk ke Jakarta dan Bali. Bahkan, banyak kolektor rela datang langsung ke Ponorogo untuk memesan karya buatannya.
“Dalam satu bulan, rata-rata saya bisa menjual 8 hingga 10 buah. Ada yang memesan lewat WhatsApp, ada juga yang datang langsung ke sini,” pungkasnya.
Dengan kreativitas dan ketekunannya, Heri Ismakut tidak hanya mengurangi limbah kayu, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru melalui seni ukir yang tetap lestari di tengah perkembangan zaman.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin





