Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Sejak diresmikan pada 2021, ratusan kios dan lapak di Pasar Legi Ponorogo masih dibiarkan kosong. Sepinya pembeli menjadi alasan utama para pemilik kios memilih untuk tidak beroperasi.
Data dari Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdakum) Ponorogo mencatat, dari 2.497 kios dan 1.400 lapak, tingkat keterisiannya baru mencapai 65 persen.
“Kami akui masih ada kios dan lapak yang kosong di setiap lantai,” ujar Kepala Bidang Pasar Disperdakum Ponorogo, Okta Hariyadi.
Baca juga : Dispendukcapil Kota Kediri Tetap Buka saat Cuti Bersama, Pastikan Pelayanan Publik Optimal
Kondisi terparah terjadi di lantai tiga, yang dikhususkan untuk pedagang gerabah, dengan tingkat okupansi hanya 45 persen. Lantai dua terisi 60 persen, lantai empat 75 persen, dan lantai pertama 80 persen.
Menurut Okta, lokasi yang dianggap kurang strategis dan minimnya pembeli menjadi alasan utama pedagang enggan menempati kios. Berbagai upaya telah dilakukan, seperti mengadakan event dan promosi langsung kepada pedagang, namun hasilnya tidak bertahan lama.
Selain itu, perubahan pola belanja masyarakat yang kini lebih memilih e-commerce juga menjadi tantangan. Disperdakum berencana memberikan pembekalan digitalisasi kepada pedagang agar dapat bersaing di era modern.
Baca juga : Operasi Pekat 12 Hari, Polres Blitar Kota Tangkap 38 Tersangka dari 24 Kasus Kriminal
“Kami perlu membekali pedagang dengan keterampilan digital, karena di pasar modern pun kini sudah banyak yang menjual sembako dan kebutuhan pokok secara daring,” pungkasnya.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor : Hadiyin





