TEL AVIV, LINGKARWILIS.COM – Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengizinkan bantuan kemanusiaan memasuki Jalur Gaza.
Dilansir dari laman Minanews, pernyataan itu disampaikan pada Rabu (16/4/2025), di tengah peningkatan intensitas serangan militer Israel dan perpanjangan blokade yang telah menghentikan pengiriman bantuan selama lebih dari sebulan.
“Israel memegang kebijakan tegas—tidak akan ada bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk ke Gaza,” kata Katz melalui akun media sosial X.
Menurut Katz, dalam kondisi saat ini, tidak ada pihak yang sedang atau akan mempersiapkan pengiriman bantuan ke wilayah tersebut.
Baca juga : Sebanyak 226 Situs Arkeologi di Gaza Rusak akibat Serangan Israel
Di sisi lain, organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas, mengkritik keras pengepungan penuh yang diberlakukan di Gaza. Mereka menyebut situasi ini telah menyebabkan krisis kelangkaan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan secara menyeluruh.
“Gaza kini seperti kuburan massal bagi rakyat Palestina dan para relawan yang berusaha menolong mereka,” ujar Amande Bazerolle, Koordinator Darurat MSF di Gaza. Ia juga menyoroti bahwa pemboman tanpa henti menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap keselamatan tim medis dan pekerja kemanusiaan.
Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan bahwa kondisi kemanusiaan di Gaza saat ini adalah yang terburuk sejak pecahnya konflik. Blokade yang berlangsung lebih dari sebulan disebut sebagai yang terpanjang sepanjang sejarah wilayah tersebut.
Baca juga : Dua Pilar Kembali, Persik Kediri Siap Tempur Lawan Persija Jakarta
Laporan OCHA juga merujuk pada data Klasifikasi Ketidakamanan Pangan Akut (IPC), yang menunjukkan bahwa dari November 2024 hingga April 2025, lebih dari 90 persen warga Gaza mengalami krisis pangan. Sekitar 16 persen bahkan berada dalam kategori paling parah, yakni kelaparan ekstrem atau bencana (fase 5).
Situasi ini menggambarkan krisis kemanusiaan yang terus memburuk seiring dengan berlanjutnya operasi militer dan ketiadaan akses bantuan.***
Editor : Hadiyin





