Daerah  

Dampak Larangan Study Tour Berimbas ke Sektor Pariwisata Kota Batu

Dampak Larangan Study Tour Berimbas ke Sektor Pariwisata Kota Batu
Para pedagang UMKM yang berjualan di stand wisata lesu.(Arief/Lingkar)

LINGKARWILIS.COM – Kebijakan sejumlah pemerintah daerah yang melarang kegiatan study tour ke luar kota mulai berdampak serius pada sektor pariwisata di Kota Batu.

Tak hanya mengurangi jumlah wisatawan, larangan study tour juga memukul keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan pendapatan dari kunjungan pelajar.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Salah satu pelaku usaha, Yusuf Indra Hermawan pemilik Warung Al-Jufri di kawasan Pasar Apung Museum Angkut mengaku omzetnya turun hingga 50 persen akibat dilarangnya study tour.

Menurutnya, penurunan jumlah kunjungan pelajar dan lemahnya daya beli masyarakat membuat momen long weekend tak lagi memberi lonjakan penghasilan seperti sebelumnya.

Pencuri Helm Terekam CCTV di Glintung, Warga Malang Resah!

“Biasanya long weekend jadi puncak kunjungan. Sekarang tidak begitu terasa. Kondisi ini jauh berbeda dibanding tahun lalu,” ujar Yusuf, Selasa (3/6).

Yusuf menambahkan, sebelum pandemi Covid-19, kawasan wisata di Batu ramai dikunjungi rombongan sekolah dari berbagai daerah. Namun setelah pandemi, tren kunjungan belum kembali normal, dan kebijakan larangan study tour memperburuk situasi yang sudah sulit.

Hal senada disampaikan Ainun Nur Farida, pelaku usaha oleh-oleh yang terpaksa menutup sejumlah gerai di kawasan wisata seperti BNS, Jatim Park 1, dan WBL. Kini, ia hanya bertahan dengan satu outlet di Museum Angkut dan mulai beralih ke penjualan online.

“Saya memilih jualan daring karena tidak terbebani biaya sewa dan operasional toko,” ungkapnya.

Mayat Perempuan Tanpa Identitas Tersangkut Batu di Sungai Pare, Warga Geger

Dampak kebijakan ini juga dirasakan Didik Harianto, pedagang buah dan oleh-oleh di Jatim Park 1. Ia menyebut, Mei yang biasanya menjadi masa panen karena musim liburan sekolah kini justru sepi pengunjung.

“Biasanya bulan Mei ramai oleh kegiatan study tour. Sekarang benar-benar sepi,” tegas Didik.

Ia berharap pemerintah mengevaluasi kebijakan larangan *study tour*, mengingat wisata edukatif berperan penting dalam pembelajaran siswa sekaligus mendukung ekonomi lokal.

Data Jatim Park 1 menunjukkan penurunan kunjungan wisatawan mencapai 30 persen sejak larangan diberlakukan. Bahkan saat libur panjang, jumlah kunjungan hanya sekitar 1.000 orang per hari—angka yang jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu.

Reporter : Arief Juli Prabowo

Editor: Shadinta Aulia Sanjaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *