LINGKARWILIS.COM – Gunung berapi Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi dengan erupsi besar pada Selasa (17/6/2025).
Letusan dahsyat ini memuntahkan kolom abu tebal setinggi 10.000 meter ke udara, memaksa pihak berwenang menaikkan status aktivitas vulkanik ke Level IV (Awas) tingkat tertinggi dalam sistem peringatan gunung api Indonesia.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), mengonfirmasi bahwa peningkatan Gunung Lewotobi Laki-laki status mulai berlaku pukul 15.00 WITA yang sebelumnya berada pada Level III (Siaga).
Dalam keterangannya, PVMBG menyatakan bahwa erupsi kali ini tergolong signifikan, dengan mencatat lebih dari 50 aktivitas vulkanik hanya dalam kurun dua jam jauh di atas rata-rata normal 8β10 aktivitas harian.
500 Peserta Daftar Fun Trail Run Tulungagung 2025, Siap Lintasi Gunung Budeg
Letusan menghasilkan awan kelabu tebal yang membentuk kolom berbentuk jamur, terlihat hingga radius 150 kilometer dari pusat kawah.
βWarga diminta untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 7 kilometer, dan sektoral barat daya hingga timur laut sejauh 8 kilometer dari pusat erupsi,β tegas Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid yang dilansir dari laman esdm.go.id
Gunung Lewotobi Laki-Laki merupakan satu dari dua gunung kembar di kawasan tersebut, berdampingan dengan Gunung Lewotobi Perempuan. Letusan besar sebelumnya tercatat pada November lalu yang menewaskan sembilan orang dan melukai puluhan lainnya.
Sebagai negara kepulauan yang berada di jalur seismik aktif, Indonesia memiliki sekitar 120 gunung berapi aktif dan merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik kawasan rawan gempa dan erupsi vulkanik yang membentang mengelilingi Samudra Pasifik.
Pemerintah daerah diimbau terus memantau perkembangan aktivitas gunung dan memastikan keselamatan warga di sekitar zona rawan bencana. Warga diminta tetap waspada, namun tidak panik, serta mengikuti arahan resmi dari otoritas setempat.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya

